Kamis, 26 Maret 2020

Akal dan Agama

Jum`at, 27 Maret 2020


Beberapa hari yang lalu, saya ditelpon oleh orang tua. Mereka menanyakan kabar tentang bagaimana kondisi malang ditengah wabah Covid-19. Yaa saya jelaskan apa yang terjadi. Akhirnya dipenghujung obrolan, seperti biasa Ibu mengingatkan saya untuk lebih mendekatkan diri kepada Tuhan, terutama lebih sering untuk mengaji (hehehe). Yaa sudahlah saya lakukan itu. Saya mulai ngaji, walaupun tidak ngaji Al-Qur`an. Tetapi saya mengikuti “Ngaji Filsafat” yang diselenggarakan oleh Masjid Jendral Soedirman Yogyakarta melalui Youtube (Ngaji Filsafat ini juga ada di Spotify). Dan akhirnya, saya memilih tema tentang Neo-Atheisme. Tapi kali ini bukan tentang Neo-Atheisme yang akan saya bahas, melainkan tentang point terpenting dari Atheisme yaitu Akal. Yaa kita semua tahulah bahwa para penganut atheism ini sangat menjunjung tinggi akal. Akal juga yang membuat mereka tidak percaya akan adanya Tuhan.

Agama sangat erat kaitannya dengan Iman. Tidak mungkin manusia yang beragama tidak beriman. Iman inilah yang dijadikan salah satu dasar untuk menolak agama. Karena menurut kaum Atheis, Iman selalu kontradiktif dengan akal atau bahasa gampangnya, Iman selalu bertentangan dengan akal. Akal selalu tunduk kepada Iman. Apakah akan selalu begitu?

Agama Meracuni Pikiran

Menurut kaum Atheis, agama membuat kita menomorduakan akal atau logika. Kita juga bisa melihat bagaimana Iman membuat kita tidak bisa melihat dunia ini dengan akal sehat. Sebagai contoh adalah masih ada masyarakat Indonesia yang mengategorikan bencana alam sebagai azab tuhan. Ketika kita menganggap bencana alam adalah azab dari tuhan, maka secara tidak langsung kita merespon untuk tidak melakukan tindakan pencegahan lebih dini terhadap bencana alam. Karena kita tidak akan tahu kapan azab Tuhan akan turun. Akhirnya, korban pun tidak bisa diminimalisir. Tetapi, hal lain akan terjadi jika kita merespon bencana alam tersebut dengan menggunakan akal dan logika kita. Dengan menggunakan Logika, kita akan mencari sebab kenapa terjadinya bencana alam tersebut dan akhirnya akan meminimalisir dampak dari bencana alam tersebut. Kebanyakan masyarakat yang beragama Indonesia sekarang tidak maksimal dalam menggunakan akalnya dan menghasilkan kepatuhan atau keimanan yang buta kepada agamanya. Seperti yang ditulis oleh Charles Kimball dalam bukunya yang berjudul “When Religion Becomes Evil”, salah satu factor yang membuat agama menjadi bencana adalah kepatuhan buta.

Rabu, 11 Desember 2019

Pelajaran dari Firdaus


“Hidup adalah ular. Keduanya sama, Firdaus. Bila ular itu menyadari bahwa kau itu bukan ular, dia akan menggigitmu. Dan bila hidup itu tahu kau tidak punya sengatan, dia akan menghancurkanmu.”


Sudah lama juga saya tidak posting sebuah tulisan di blog ini. bukan karena malas tetapi yaa memang tidak gairah untuk menulis. Lebih banyak menghabiskan waktu dengan bermain bersama handphone dan membaca buku. ketika selesai membaca buku ada niatan untuk berbagi hasil bacaan saya di blog ini tapi, yaa niatan itu hanya sampai pada diary saja. Kali ini saya coba memaksakan untuk menulis hasil dari bacaan saya.

Dulu saya pernah ditanya kenapa saya suka baca buku. padahal waktu masih sekolah dasar saya malas sekali membaca, harus disuruh dulu baru mau baca buku. tapi, itu semua berubah ketika saya menemukan tumpukan buku LUPUS yang ditulis Boim Lebon. Ketika membaca kisah-kisah Lupus inilah saya menemukan kebahagiaan dari membaca dan rasa bahagia itu terus tumbuh sampai sekarang. Dengan berbagi hasil bacaan saya di blog ini, saya berharap bisa menularkan minat untuk membaca buku kepada siapa saja yang membaca tulisan ini. dan akhirnya, membuat mereka menjadi bahagia dengan membaca buku.

Kali ini, saya mencoba berbagi tentang buku yang berjudul “Firdaus, Perempuan di Titik Nol”. Sebuah novel karya Nawal El-Saadawi yang diterjemahkan oleh Amir Sutaarga dan diterbitkan oleh Yayasan Pustaka Obor Indonesia. Sebenarnya, saya sudah lama ingin membeli buku ini, dari sekitar pertengahan tahun ini. tetapi, karena sesuatu hal jadi baru bisa beli awal bulan Desember ini. Novel ini bercerita tentang seorang pelacur yang menunggu hari dimana dia akan dihukum gantung karena membunuh seseorang. Di hari terakhir kehidupannya dia menceritakan kepada seorang dokter (yang juga seorang penulis) tentang kehidupannya sebelum ditangkap polisi dan divonis hukuman gantung. Secara garis besar, Firdaus ingin bercerita bahwa bobroknya dunia karena kekuasaan laki-laki.

Firdaus merupakan seorang perempuan yang sangat membenci laki-laki. hal ini dikarenakan pengalaman hidupnya dari dia kecil sampai dewasa. Ayah, seharusnya sebagai tempat dia menemukan sosok pengayom pertama dalam hidupnya malah bertindak seperti raja yang menindas. Dikisahkan oleh Firdaus, bahwa ayahnya tidak akan melupakan makan malam sebelum tidur. Ayahnya akan selalu makan malam walaupun persediaan makanan menipis dan anggota keluarganya yang lain tidak makan. Pernah sekali waktu Firdaus sangat lapar, dia mengambil makanan yang disiapkan untuk ayahnya, dan ketahuan oleh ayahnya. Alhasil, firdaus habis dipukuli oleh ayahnya.

Kamis, 24 Januari 2019

Sisi Positif dari “Turbulensi” PSSI

Kamis, 24 Januari 2019


”Kita bisa bersatu karena 2 Hal. Pertama adanya musuh bersama dan kedua adalah Film Porno”


Tadi Malam saya menonton Program Mata Najwa di salah satu stasiun TV swasta. Masih dengan topic yang sama yaitu “PSSI bisa apa”. Saya melihat sisi lain dari apa yang dibicarakan oleh narasumber yang diundang tadi malam. Saya mau melihat masalah sepak bola Indonesia saat ini dari sisi supporter. Dengan kondisi PSSI yang sekarang, seharusnya supporter lah yang diuntungkan. Kenapa seperti itu? Karena menurut saya, dengan kondisi sekarang PSSI yang sekarang ini lah supporter seluruh Indonesia bisa bersatu, tanpa pandang dari mana berasal atau supporter club apa. Kondisi sekarang ini bisa dijadikan momentum oleh supporter seluruh Indonesia untuk menekan angka atau bahkan menghilangkan tawuran antar supporter. Dan akhirnya, supporter Indonesia bisa bebas dari keributan, kericuhan atau apapun itu istilahnya.

Kamis, 13 September 2018

Mana yang Kita Percayai

Kamis, 13 September 2018

Aku menonton sebuah serial terbaru dari sebuah aplikasi streaming. Setelah itu aku membaca novel "Laut Bercerita" karya Laila S. Chudori. Kali ini bukan tentang film atau buku. Tapi, tentang cinta dan benci. selama hampir 1/4 abad aku hidup, hanya 2 hal ini yang masih aku anggap seagai ranah abu-abu. Tidak jelas, tidak terdefinisi, tak hingga. Yaa seperti pembagi 0 lah. 0/0 = Tak hingga, a/0=tak terdefinisi.

Selama ini begitulah aku menganggap cinta dan benci. kita bisa menjadi benci karena seseorang karena cinta. Begitu juga sebaliknya. Aku juga menduga ada satu ruang kosong antara 2 hal yang kontradiktif tersebut. Sebuah ruang yang tidak dimiliki oleh keduanya. Bisa juga bukan ruang kosong, melainkan jembatan yang menghubungkan keduanya. sebuah ruang atau jembatan yang digunakan sebagai tempat singgah dimana setiap orang menentukan akan pergi kemana. Kita bisa sebut tempat tersebut adalah logika. 

Minggu, 08 Juli 2018

Merdeka? Menurut saya belum


Minggu, 8 Juli 2018

Tepat satu minggu yang lalu (1 Juli 2018), ketika saya masih berada di Bekasi, malam itu saya masih memperolok Spanyol yang kalah adu pinalti melawan Rusia. Dan memperolok teman saya yang kalah taruhan, padahal taruhannya cuman 10ribu. Sungguh taruhan yang nanggung sekali. Setelah pulang dari tempat “ngopi”, saya membuka twitter dan menemukan sebuah kabar yang tidak menggembirakan dari Kota Malang. Ada bentrokan antara mahasiswa papua dengan warga sekitar kontrakan mereka. banyak berita yang simpang siur tentang akar masalah bentroknya warga dengan mahasiswa papua tersebut. Tapi satu yang saya tahu, bahwa bentrokan tersebut adalah karena pembubaran acara nonton film dan diskusi yang diselenggarakan oleh mahasiswa papua. Kenapa bisa seperti itu? Karena 1 juli merupakan hari yang sangat penting bagi masyarakat papua. Dan yang pasti saya melihat beberapa twit tentang acara tersebut.

saya tidak mempermasalahkan tentang masalah “penentuan nasib papua oleh masyarakat papua”, “kemerdekaan papua” atau masalah-masalah “seksi” lainnya yang menyangkut papua. Saya juga tidak termasuk kedalam organisasi papua merdeka bahkan saya tidak tahu menahu akan organisasi tersebut. Tetapi yang saya permasalahkan adalah tidakan pembubaran acara tersebut. Entah siapa yang memprovokasi warga untuk membubarkan acara tersebut hingga akhirnya menimbulkan “Crash”. Bukannya merendahkan warga sekitar, tetapi saya tidak pernah berfikir warga akan melakukan tindakan seperti itu jika tidak ada yang memprovikasi. Saya pernah ngontrak dan pernah melakukan beberapa diskusi tapi warga sekitar tempat saya ngontrak diam saja bahkan terkesan acuh tak acuh dengan acara yang kami buat. Alhasil diskusi yang kami lakukan berjalan dengan lancar. Tetapi, kenapa hal tersebut tidak terjadi kepada teman-teman mahasiswa papua. Menurut saya, ketika suatu kota sudah berstatus sebagai kota pelajar, kegiatan diskusi dan sejenisnya merupakan hal yang lumrah. Karena konstitusi pun mendukung hal tersebut. Lalu ketika ruang diskusi atau yang sejenisnya sudah diberangus, apakah masih pantas kota tersebut masih berstatus sebagai kota pelajar?

Sabtu, 23 Juni 2018

Tidak Ada Judul

Rabu, 30 Mei 2018

Hari ini saya baru menamatkan salah satu anime yang berjudul “Heavy Object”. Sebuah anime yang menceritakan sebuah peperangan dengan menggunakan senjata jenis baru yang dinamakan Object. Kali ini bukan tentang anime atau perang. Tetapi tentang sebuah celetukan seorang tokoh utama yang bernama Quwentur. Dalam salah satu pertempuran di daerah yang dinamakan Oceania dia nyeletuk gini “Ini kan sebuah Negara loh. Apakah mereka termotivasi terhadap sesuatu? Ataukah hanya kumpulan manusia saja?”. Setelah itu saya terpaku beberapa saat. Memang sih ini cuman sebuah celetukan yang sederhana, tetapi malah memunculkan sebuah pertanyaan dalam benak saya yang hampir sama dengan Quwentur. Apasih yang membuat rakyat Indonesia pada waktu itu berjuang untuk kemerdekaan Indonesia. Padahal dari segi ekonomi, ketika dijajah Belanda kita sudah mumpuni. Berbeda dengan sekarang. Yaa kita tahu sendiri lah 1 dolar aja sudah menembus angka 14.000 rupiah. Belum lagi dengan masalah keamanan dalam negeri. Belum lagi kasus terorisme yang baru-baru ini terjadi. Dari buku sejarah kita tahu bagaimana Belanda dengan mudahnya menghancurkan gerakan perlawanan yang dilakukan oleh masyarakat Indonesia dengan berbagai macam cara. Sebenarnya apasih yang diperjuangkan oleh para pahlawan tersebut. Apasih motivasi mereka sehingga mereka dengan gigih memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.

Senin, 25 Desember 2017

Mencoba Berpendapat

Senin, 25 Desember 2017


Sore senin menjelang maghrib di hari senin ini saya mendapatkan sebuah Direct Message di Instagram dari seorang teman. Isi DM-nya berkaitan dengan LGBT. Dia menanyakan pendapat saya tentang LGBT. Entah kenapa saya ingin berfikir berbeda dengan mayoritas masyarakat. Kita tahu sendiri lah jika mayoritas masyarakat Indonesia menolak LGBT. Saya tidak mendukung LGBT. Tapi saya juga tidak menolak LGBT. Entah di posisi mana saya berada.

Jumat, 22 Desember 2017

Pembangunan VS Alam

Sabtu, 23 Desember 2017

“Ini bukan cuman urusan tanah, tapi ada juga ada kehidupan disana. Sesuatu tumbuh dari tanah (mereka hidup)”. (Aldo Leopold)

Pagi ini saya terbangun lumayan cepat. Yaa walaupun alasannya adalah untuk menonton salah satu team sepak bola favorite saya bertanding. Tetapi, setelah pertandingan itu, saya tidak bisa tertidur lagi. Yaa mungkin karena jam tidur sudah kembali normal seperti biasa. Hari ini merupakan hari libur, Long Weekend lebih tepatnya. Ini membuat saya bosan. Bingung mau ngapain. Baca buku bosen terus juga mau liburan tapi mau kemana dan yang paling penting sih liburannya sama “siapa” hehehe. Akhirnya saya putuskan untuk maen Sudoku. Tapi, lama kelamaan bosen juga sih. Yaudah akhirnya buka youtube aja dah. Setelah buka youtube, muncul salah satu rekaman diskusi disalah satu channel tentang Ekofenimisme yang dipandu oleh Rocky Gerung. Setelah menonton sedikit diskusi tersebut, saya teringat akan tulisan saya sebelumnya (Tanpa Judul). Yang sedikit isinya membahas tentang masalah pembangunan bandara di Kulon Progo. Pembangunan yang merugikan warga setempat dan ada kemungkinan bisa merusak keseimbangan alam disana.

Menurut saya (mungkin kalian juga), sampai saat ini Indonesia masih berstatus Negara berkembang (entah kapan menjadi Negara maju). Saya tidak tahu pemikiran ini tercetus darimana, saya melihat bahwa suatu Negara dikatakan maju, ketika Negara tersebut kuat dalam bidang ekonomi. Karena itulah untuk menjadi Negara maju, Indonesia harus kuat dibidang ekonomi. Untuk membuat ekonomi Indonesia maju, maka harus ditunjang dengan Infrastruktur yang mumpuni. Karena itulah kita tidak bisa lari dari yang namanya pembangunan. Tetapi, pertanyaannya adalah “Apakah pembangunan yang dilakukan untuk menunjang pertumbuhan ekonomi harus mengorbankan alam?” tidak bisakah pembangunan juga melihat alam sebagai suatu hal yang perlu dipertimbangkan. Padahal menurut Aldo Leopold, manusia hanya sebagian kecil dari organisme di alam ini. artinya, ketika Leopold berpendapat demikian, ada relasi antara manusia dengan alam. Kasarnya ialah “Ketika alam rusak, maka Manusia juga akan rusak”

Senin, 18 Desember 2017

Tanpa Judul

Selasa, 19 Desember 2017

Ide tulisan kali ini sebenarnya berawal dari suatu postingan di Instagram akun @berdikaribook. Yang inti dari postingannya adalah tentang penghancuran gerakan kiri di Indonesia. Yaa kita tahu semua lah apa sih itu gerakan kiri. Kenapa sampai dinamakan “kiri”. Istilah sayap kiri sendiri berawal ketika revolusi Prancis yang mengacu kepada tempat duduk dewan legislative. Ketika kaum monarkis yang mendukung Ancien Regime biasa disebut kaum kanan karena mereka duduk sebelah kanan diruang legilatif. Ancien Regime bisa juga disebut Rezim Ancien ialah suatu system aristokratik di Perancis yang dipimpin oleh dinasti Valois dari Bourbon pada abad ke-14 sampai abad ke-18. Rezim ini menerapkan banyak sekali aspek Feodalisme, khususnya hak-hak istimewa untuk kalangan pendeta dan bangsawan (Wikipedia.com). Sedangkan kaum kiri merupakan kaum yang menolak Ancien Regime. Dan mereka duduk di sebelah kiri ruang legislative.  Intinya adalah Gerakan Kiri merupakan gerakan yang berpihak pada rakyat, yang melawan penindasan, yang memperjuangkan keadilan. Kalau bahasa kaum Marxis adalah meniadakan penghisapan manusia atas manusia lainnya.

Di Indonesia sendiri (dalam postingan @berdikaribook), benih-benih gerakan kiri di Indonesia dimulai pada masa Ibu Kartini. Yang dilakukan beliau adalah menulis berbagai kritik terhadap Feodalisme dan Kolonoalisme. Setelah itu, muncul-lah tokoh-tokoh seperti Semaoen, Alimin dan lain-lain pada masa Syarikat Islam yang membela para buruh dan kaum tani (baca tulisan saya yang berjudul “dari perkebunan tebu hingga Partai Komunis Indonesia). Lalu pada masa revolusi kemerdekaan ide-ide kiri direpresentasikan dalam PANCASILA khususnya pada sila tentang KEDAULATAN RAKYAT DAN KEADILAN SOSIAL.

Minggu, 17 Desember 2017

Bulan dan Bintang di Atas Kubah Masjid

Selasa, 12 Desember 2017

Kemarin malam ada salah satu teman yang menanyakan tentang simbol-simbol ke-Islam-an yang ada di Indonesia. Dia menanyakan tentang sarung dan peci yang lekat dengan kaum santri dan tentunya santri dekat sekali dengan Islam. Tetapi, saya memikirkan hal yang lain, yaitu kenapa kebanyakan kubah masjid di Indonesia ada lambang Bulan dan Bintang (bukan salah satu partai politik yaaa) atau hanya bulan saja. Kenapa sih bisa kepikiran buat simbol untuk kubah masjid itu seperti itu bukan simbol yang lain seperti matahari atau apapun itu yang melambangkan sebuah kekuasaan. Kenapa kekuasaan? Yaa karena masjid sering disebut dengan rumah Allah, berarti yaa seharusnya diletakkanlah simbol kekuasaan Allah. Yaa walaupun bulan atau bintang juga lambang kekuasaan Allah. Tetapi, yaa kenapa harus bulan atau bintang. *ini kenapa jadi bolak-balik gini dah*. Yaaa intinya saya mau mencoba menjawab kenapa yang diambil adalah simbol bulan dan bintang tersebut.

Keadaan Masyarakat Arab.

Seperti yang kita semua ketahui, bahwa Nabi Muhammad SAW. dilahirkan di kota Mekkah. Beliau lahir pada hari senin, 12 Rabiul Awal. Nah, pada saat itu kota Mekkah dilanda suatu yang namanya zaman kegelapan, kita biasa menyebutnya zaman Jahiliyah. Zaman dimana peradaban Mekkah mengalami kemunduran terutama masalah Akhlaq. Ketika itu, moralitas masyarakat arab sudah jatuh ke titik terendah. Perang antar suku, perbudakan serta penidasan oleh yang kaya terhadap yang miskin atau bisa kita bilang penghisapan manusia atas manusia terjadi pada masa jahiliyah. Hal yang seperti ini sama dengan yang terjadi ketika revolusi industry di eropa. Masyarakat terbagi menjadi dua kelas, yaitu kelas borjuis (penguasa) dan kelas Proletar (budak).

Selasa, 12 September 2017

Jangan Baca Buku !!!

Selasa, 12 September 2017

Pada Tahun 2012, Unesco mendapati minat baca di Indonesia hanya berada dikisaran 0,001. Artinya, dari 1000 orang, hanya satu orang yang mempunyai minat baca. Dan pada tahun 2015, Survei Most Literated Nation in the World menempatkan Indonesia pada peringkat 60 dari 61 Negara. Indonesia hanya lebih baik dari Botswana (saya juga gatau itu Negara dimana). Sudah beberapa tahun ini saya tergabung disebuah komunitas literasi (perpustakaan jalanan) yang ada di Kota Malang. Alasan saya ikut komunitas ini bisa dibilang akibat ketidakpuasan saya akan perpustakaan yang disediakan oleh kampus.  Kita semua tahu bagaimana pertauran yang ada di perpustakaan kampus. Mulai dari tidak boleh masuk bagi yang tidak memakai sepatu, tidak boleh berisik, dan lain sebagainya. Yang menjadi pertanyaan adalah apa hubungannya antara memakai atau tidak memakai sepatu dengan minat baca. Apakah dengan memakai sepatu, seseorang lebih bisa menyerap isi dari buku daripada yang tidak memakai sepatu? Mulai dari sinilah saya meninggalkan perpustakaan kampus dan bergabung dengan perpustakaan keliling ini. selain bisa terbebas dari peraturan perpustakaan yang tidak jelas itu, saya juga bisa berbagi buku-buku bacaan saya dengan orang-orang yang mempunyai minat baca buku yang tinggi tetapi tidak bisa membeli buku karena alasan ekonomi. Tetapi, setelah lama bergaul dengan orang-orang komunitas ini, saya bisa mengatakan bahwa JANGAN MEMBACA BUKU. Ada beberapa alasan kenapa saya berkata seperti itu.

Kesepian

Pertama, orang yang suka baca buku itu adalah orang yang kesepian. Jika kita melihat generasi sekarang yang digenggamannya adalah smartphone, indikasi orang itu kesepian atau tidak adalah berapa banyak chat dari lawan jenis yang dia terima atau balas setiap harinya. Kita lihat saja postingan yang ada dibeberapa media social, orang yang jomblo (beneran jomblo dalam artian ga punya gebetan apalagi pacar) selalu idientik dengan yang namanya kesepian. Nah, jika orang itu banyak chat (bukan masalah tugas, PR, ataupun kerjaan) dari lawan jenis otomatis bisa kita katakan bahwa dia kesepian. Nah, karena kesepian ini lah dia mencari suatu pelarian yang membuatnya tidak kesepian. Salah satunya adalah membaca, entah itu baca buku, baca line today atau apapun itu. Berkaca dari pengalaman pribadi, setiap hari saya emang dapat banyak chat. Tapi, itu chat rutinan dari official account yang ada di line atau grup yang ada di Whatsapp. Chat dari lawan jenis pun bukan sebagai gebetan, melainkan hanya nanya tugas, atau nanya sesuatu apapun itu.

Selasa, 20 Juni 2017

Solusi dari Merebaknya Petasan Ketika Ramadhan

Selasa, 20 Juni 2017

Ada satu fenomena yang selalu kita hadapi ketika Ramadhan datang, bukan tentang puasa, tarawih, atau mudik yang saya bahas kali ini. tetapi, ada satu fenomena yang menjengkelkan ketika bulan ramadhan, yaitu merajalelanya petasan. Sangking banyaknya petasan ketika bulan ramadhan, didepan kost saya seperti medan perang di GAZA. Yaa emang sih kost saya ada dibilangan Gazayana (sumpah ini jayus) hahah :p.

Ketika ramadhan datang, polisi pun disibukkan dengan merazia pabrik dan pedagang petasan. Setiap tahun ini pasti terjadi. Penyitaan dan pemusnahan petasan mengikuti setiap tahunnya. Entah berapa uang yang mubazzir untuk membuat petasan dan kemudian tidak bisa dijual karena disita aparat. Dan entah juga berapa uanng yang dianggarkan untuk operasi petasan setiap tahunnya. Menurut saya, fenomena petasan ini hampir sama seperti fenomena kebakaran hutan. Setiap tahun pasti terjadi dan seperti tidak ada cara untuk menanggulangi agar tidak terjadi ditahun berikutnya.

Coba kita berfikir, apa yang melatarbelakangi banyaknya petasan di bulan Ramadhan. Pertama, menurut saya, ini karena kebiasaan yang sudah mendarah daging di masyarakat Indonesia. Petasan dan ramadhan tidak bisa dilepaskan. Ketika selesai berbuka anak-anak dan remaja awal menghabiskan malam ramadhan dengan bermain petasan. Saya pun berfikir seperti ini ketika saya masih kecil. Jangankan anak-anak dan remaja awal, bahkan para mahasiswa pun yang menurut kita sudah dewasa masih memainkan petasan untuk mengisi malam ramadhan. Nah, karena permintaan masyarakat Indonesia terhadap petasan sangat tinggi ketika Ramadhan, maka tidak mengherankan petasan menjadi banyak ketika Ramadhan. Kedua, adalah masalah ekonomi, ini masih nyambung dengan alasan pertama. Ramadhan hanya sekali selama satu tahun (Masa Sih?). nah, periode ini lah yang ditunggu-tunggu oleh para produsen petasan. Kapan lagi bisa meraup untung besar kalau bukan sekarang. Soalnya, kalau bulan bulan biasa kan petasan paling dipakai buat sunatan atau nikahan. Itu pun ga setiap hari orang nikahan atau sunatan pakai petasan, paling ya orang betawi doang. Tapi, beda kasus kalau bulan Ramadhan, mau ada nikahan atau ga, mau betawi atau ga, setiap malam tetap main petasan. Bisa dibayangkan kan bagaimana keuntungan para penjual atau produsen petasan ketika Ramadhan datang. Tidak heran jika Ramadhan dibilang bulan penuh berkah.

Setelah kita mengetahui kenapa petasan menjadi marak ketika Ramadhan, langkah selanjutnya adalah, bagaimana menanggulangi fenomena ini. Kita tidak bisa memungkiri, petasan banyak mudhorotnya, selain menganggu kenyamanan ketika beribadah pada malam hari, petasan juga bisa melukai orang yang memainkannya. Sudah banyak kita mendengar berita petasan meledak ditangan. Para pembuat petasan mah ga pernah mikir akan jatuhnya korban, yang mereka pikirin gimana caranya mereka dapet uang untuk menyambung hidup. Terlebih lagi ketika mendekati lebaran yang harga kebutuhan naik. Solusinya sebenarnya simpel, yaitu membuat petasan tidak bisa meledak. Gimana caranya, siram pakai air? Jangan! Sayang airnya, lagi musim kemarau soalnya. Tutup pabriknya? Ga bisa juga. Seperti kata pepatah “mati satu tumbuh seribu”. Selama bahan untuk membuat petasan dijual bebas, pabrik petasan akan tetap hidup. Terus apa? Musnahkan bahan pembuat petasan? Yaa kali bahan itu cuman digunakan untuk membuat petasan. Kan ga juga. Lalu apa?

Seperti yang saya tulis diatas, kita buat petasan tidak bisa meledak. Dengan cara HENTIKAN PRODUKSI KOREK API. Menurut saya ini adalah solusi yang paling tetap untuk menyikapi fenomena petasan ketika Ramadhan. Hanya dengan korek api petasan bisa meledak. Lalu akan muncul sanggahan “Pakai Kompor gas kan bisa”. Ini sanggahan bodoh. Pertama, kalian emang mau bawa kompor gas kemana mana. Berat, lagiyan besar juga. Kedua, masalah waktu. Petasan akan meledak sepersekian detik setalah disundut. Dengan menggunakan korek api saja masih bisa meledak ditangan apalagi dengan menggunakan kompor gas. Harus ke dapur dulu, setelah itu lari lagi ke jalan untuk melempar petasannya. Yaaa keburu meledak ditangan juga kan. Dengan menghientikan korek api, para polisi bisa menghemat anggaran uang bensin untuk merazia pabrik petasan. Dan tenaga polisi juga bisa lebih digunakan untuk memberantas kejahatan malam hari. Kan sekarang lagi marak-maraknya kejahatan malam hari. Masa kalah sama kaum vigilante yang berpakaian putih-putih.
Menghentikan produksi korek api juga akan menghentikan aktivitas merokok. Yaa kali kemana mana bawa kompor gas buat nyalain rokok hahahaha. Tapi, kalo pake vape gimana ya? Gatau juga sih kalo pakai vape hahah :p.

Itu aja untuk kali ini, ga jelas sih sebenarnya tulisan ini. cuman yaa mau nulis aja. Udah lama ga nulis. Daaaah :p

Senin, 03 April 2017

Dari Perkebunan Tebu Hingga Partai Komunis Indonesia (Book Review : "Dibawah Lentera Merah")

3 April 2017

Beberapa hari ini saya mulai membuka kardus-kardus berisi buku-buku saya selama kuliah di Malang. Ada beberapa buku yang sangat menarik perhatian saya untuk dibaca kembali, khususnya buku-buku Soe Hok-Gie, baik tulisannya sendiri maupun kumpulan tulisan sahabat-sahabatnya tentang dirinya. Tidak perlu saya ceritakan siapa itu Hok-Gie karena ditulisan sebelumnya sudah saya ceritakan tentang sosok Hok-Gie. Dari 6 buku tentang Hok-Gie yang saya punya, perhatian saya tertuju kepada satu buku yang diadaptasi dari Skripsi Sarjana Muda-nya Hok-Gie yang berjudul “Di Bawah Lentera Merah”. Dalam buku ini, Hok-Gie mencoba menarasikan awal munculnya Komunisme di Indonesia sebelum tahun 1926 yang dimulai dnegan studi terhadap kaum “Marxis” Indonesia. Dan benang merahnya dimulai dari Sarekat Islam (SI) Semarang. SI yang awalnya bergereak disisi perdagangan menjadi pergerakan rakyat.

Dalam Pendahulunya Hok-Gie menulis bahawa permulaan abad ke-20 merupakan periode dimana terjadi perubahan sosial yang sangat besar di Tanah Air. Ini terjadi karena perkembangan pendidikan barat, pertumbuhan penduduk dan mulainya penggunaan tekhnologi modern di Indonesia. Dalam BAB I buku “Orang-Orang Di Persimpangan Kiri Jalan”, Hok-Gie menulis bahwa dengan perkenalan Tekhnik Barat yang begitu menakjubkan, berdiri sekolah-sekolah yang merupakan pintub gerbang ke arah penguasaan ilmu pengetahuan. Perkenalan dengan pendidikan barat yang berimpit dengan perubahan serba cepat, kemudian menimbulkan krisis pemikiran di dalam hati pemuda Indonesia. Perkenalan dengan ide-ide persamaan, kemerdekaan, Hak Azasi Manusia, martabat bangsa dan lain-lain. dan para pemuda ini melihat kenyataan sehari-hari hanya berisikan tentang penghinaan terhadap mereka yang dilakukan Penjajah. Dari pesatnya perkembangan pendidikan inilah Pemuda Indonesia muil;ai sedikit melakukan perlawanan kepada Belanda.

Senin, 16 Januari 2017

Kenapa Komunisme Anti-Agama

Senin, 16 Januari 2017

Beberapa hari lalu saya memposting foto 3 buah buku yang saya miliki. Buku tulisan Prof. Franz Magnis Suseno. Buku pertama berjudul Pemikiran Karl Marx, buku kedua berjudul dalam baying-bayang Lenin dan yang ketiga berjudul dari Mao ke Marcuse. Jika kita lihat buku-buku tersebut mencerinkan ideology komunis. Maka dari itu ada beberapa komentar negative ketika saya memposting foto 3 buku itu. Bahkan adik saya sendiri memberikan komentar “hati-hati di sweeping ormas”. Saya berfikir apa urusannya ormas melakukan sweeping terhadap buku bacaan saya. Menurut saya, mempelajari sesuatu tidak sama dengan menganutnya, apalagi menyebarkannya. Setelah kejadian 30 September 1965, ideology komunis dilarang di Indonesia. Ideology komunis dilarang disebarkan. Tidak hanya pelarangan penyebarannya tetapi ideology komunis juga disingkirkan dari materi yang dipelajari di Universitas-universitas dan perguruan tinggi. Akibatnya, ini menjadi penghianatan terhadap pembukaan UUD 1945. Kehidupan bangsa tidak dicerdaskan, melainkan dibodohkan. Ideology-ideology yang dianggap berbahaya bukannya dihadapi secara kritis dan argumentative, tetapi ditabukan dan dimitoskan (Franz Magnis Suseno: Pengantar pemikiran Karl Marx). Jadi, ketika saya membaca buku-buku komunis bukan berarti saya akan menganut paham komunis atau menyebarkannya, tetapi saya akan melihat dimana celah untuk bisa mengcounter paham tersebut.

Saya bertanya dengan beberapa teman saya kenapa mereka menolak komunis. Mayoritas jawaban mereka adalah bahwa komunis itu menolak agama. Padahal ada yang lebih berbahaya dari itu. Ketika partai komunis berhasil memegang kekuasaan, dia tidak akan melepaskannya secara sukarela. Dia akan menyingkirkan kekuatan politik lain, menghapus pemilihan umum secara bebas, dan memasang aparat kontrol totaliter terhadap masyarakat yang akan menindas segala perlawanan. Jika memang komunis anti terhadap agama, lalu alasan yang akan kita lontarkan atas apa yang terjadi di RRC dan Korea Utara. Apakah pemerintah disana benar-benar melakukan pelarangan terhadap agama?

Dalam tulisan ini saya mencoba menggali kenapa di Indonesia, komunis itu begitu lekat dengan anti terhadap agama. Jika kita berbicara komunis, maka tidak lepas dari seorang Tokoh bernama Karl Marx. Seorang tokoh yang kita kenal sebagai orang yang sosialis. Ajarannya Marx kemudian hari lebih dikenal dengan Marxisme dan kemudian dimodifikasi oleh Lennin menjadi Marxisma-Leninisme atau lebih dikenal dengan Komunisme. Marxisme-Leninisme ini terdiri dari Marxisme plus ajaran-ajaran Engels dan Lenin. Artinya, jika kita ingin memahami Komunisme alangkah lebih baiknya kita mempelajari Marxisme.

Selasa, 27 Desember 2016

Kunjungan MA. Attaqwa Puteri Ke Malang (Hari Kedua)



Selasa, 20 Desember 2016

Saya lihat jam di HP masih menunjukkan pukul 05.00. tumben sekali jam segini udah bangun. Biasanya jam segini masih belum tidur atau bahkan baru mau mulai tidur. Karena jika saya tidur sebelum subuh biasanya saya tidak akan bangun subuh. Makanya saya tidur habis subuh biar tidak ketinggalan sholat subuhnya. Setelah saya menunaikan sholat subuh, saya bingung mau melakukan apa. Mau tidur lagi sudah tidak bisa. Akhirnya saya teringat akan agenda hari ini. Ternyata pilihan itu masih membuat saya dilema. Mau UKM atau ikut jalan-jalan. Ada seorang saudara jauh saya yang kuliah di malang yang orangtuanya merupakan kepala sekolah MA. Attaqwa puteri. Dia menghubungi saya bahwasanya dia akan menjemput saya pukul 06.30 untuk ikut ke hotel. Awalnya sih cuman mau ikut sarapan aja. Soalnya bagi saya, tanggal seperti ini bukan lagi tanggal yang layak untuk sarapan. Mumpung gratis yaa saya terima saja ajakannya. Setelah mandi dan siap-siap, jemputan pun datang. Setelah sampai hotel saya pun langsung menuju tempat makan. Tanpa Ba Bi Bu saya langsung menyerbu meja prasmanan. Yaa gimana sih, mahasiswa tua plus dalam keadaan tanggal tua. Yaaa kalap lah. Porsi yang saya ambil tidak layak dikatakan sebagai porsi sarapan, lebih tepatnya porsi tumpeng. Lauknya boleh sedikit yang penting nasinya banyak.

Setelah makan,  merupakan puncak dari kegaluan saya hari ini. Disatu sisi saya ingin ikut acara di UKM. Karena sosok Soe Hok Gie sangat menginspirasi saya. Di sisi yang lain saya tidak enak dengan saudara saya. Akhirnya saya memutuskan untuk tidak ikut jalan-jalan tetapi ikut acara di UKM. Karena yang saya fikirkan adalah ribetnya jalan-jalan dengan yang namanya wanita. Satu wanita saja sudah ribet apalagi 4 bus wanita heheh. Tetapi, ketika sudah sampai di lobby hotel saya singgah sebentar di salah satu minimarket untuk membeli eskrim. Dan disana ada saudara saya itu. Yaudah saya disuruh untuk membawakan tas anak beliau masuk ke dalam Bus. Waah ini bau-baunya sudah tidak bisa melarikan diri. Tapi, akal busuk saya masih bekerja. Setelah masuk bus, saya bilang mau ke minimarket lagi untuk menyapa beberapa alumni pondok yang sama-sama melanjutkan kuliah di malang. Padahal mah mau melarikan diri. Setelah bisa keluar dan pura-pura ngobrol dengan mereka (alumni pondok) terdengar teriakan seseorang yang memanggil nama saya. Saya sangat kenal dengan suara itu. Ternyata suadara saya itu mengerti akal bulus saya untuk tidak ikut. Akhirnya mau tidak mau saya ikut dalam perjalanan kali ini. Dan saya ditempatkan di Bus 4. Bus yang tidak ada sama sekali guru-guru senior disana. Yang ada hanya salah satu kakak kelas saya, santri Pesantren Tinggi Attaqwa (PTA) dan salah satu crew Berkah Tour n Travel. Waaah pas sekali. Saya bisa sedikit “menggila” ditambah dengan supir bus yang sangat bersahabat dan sering melemparkan guyonan yang membuat seisi bus tertawa. Mungkin dari seluruh bus. Bus 4 ini merupakan Bus yang paling damai (tidak ada gangguan) dan paling berisik.

Kunjungan MA. Attaqwa Puteri ke Malang (Hari Pertama)



Senin, 19 Desember 2016

Pukul 14.00 saya sedang duduk didepan salah satu minimarket dibilangan jalan Soekarno-Hatta, Malang. Langit sudah mulai gelap. Keadaan seperti ini sudah biasa terjadi ketika malang dilanda musim hujan. Seperti sudah terpola. Habis dzuhur pasti akan turun hujan. Hari ini adalah hari dimana saya akan kedatangan pasukan dari MA.Attaqwa Pusat Puteri. Mereka akan mengadakan kunjungan selama 3 hari di kota Malang. Kunjungan ke tempat-tempat wisata yang ada di Malang Raya. Dimulai dengan pergi ke masjid Tibba dibilangan Turen.

Tidak terasa hujan turun semakin deras. Saya masih masih ditempat yang sama menunggu mereka tiba dihotel tempat mereka menginap. Entah sudah berapa gelas kopi dan berapa halaman buku yang sudah saya lahap untuk membunuh waktu. Ketika saya membaca jadwa yang diberikan oleh pihak sekoah. Mereka seharusnya tiba dipenginapan pukul 14.00. tetapi, sampai pukul 14.30 pun mereka belum tiba. Mungkin mereka sedang terjebak kemacetan. Karena saya melihat jalanan didepan saya penuh dengan kendaraan yang mengantri untuk berjalan. Akhirnya mereka tiba pukul 15.30.

Perlahan perserta perjalanan kali ini turun dari bus. Perjalanan kali ini menggunakan salah satu biro perjalanan yang dikelola oleh salah satu alumni Pondok Pesantren Attaqwa. Kalau tidak salah namanya adalah ”Berkah Tour n Travel”. Wajah-wajah lusuh, capai menghiasi pemandangan saya. Wajar saja. Setelah menempuh perjalanan selama 16 Jam menggunakan kereta api Matarmaja yang dikenal sangat tidak ramah untuk pantat penumpangnya. Ditambah lagi dengan mereka langsung menuju masjid Tibban. Saya menjadi bingung, ini liburan atau bagaimana. Liburan kok tidak ceria hehehe. Yaa mungkin mereka baru pertama kali menempuh perjalanan darat yang jauh. karena hampir 90% dari santri itu berasal dari daerah Jabotabek. Padahal, setelah ini mereka akan kembali melanjutkan perjalanan ke Alun-Alun Kota Wisata Batu (menurut rundown acara).

Setelah permasalah terkait penurunan barang-barang bawaan, mereka segera melanjutkan untuk check-in penginapan. Saya ikut membantu sebisa saya. Walaupun pihak tour n travel nya sudah mempunyai crew. Walaupun hanya sebatas mengatur lalu lintas lift hehehe. Sebenarnya tujuan saya bukan untuk membantu pihak Tour Travel (emang ga membantu sih malah tambah bikin repot) tapi untuk menemui saudara saya yang ikut dalam perjalanan kali ini. Kebetulan saudara saya menjadi staff pengajar di MA. Attaqwa Puteri. Dan juga karena orang tua saya sudah bawel dari pagi sudah nelon agar saya menemui saudara saya tersebut.

Akhirnya ketemu lah saya dengan saudara saya tersebut. Tidak ada yang istimewa sebenarnya. Tapi kalau boleh jujur, saya lebih dekat dengan saudara saya ini dibandigkan dengan orangtua saya sendiri. Karena saudara saya ini lah yang menjadi orangtua saya ketika saya bersekolah di Pondok Pesantren Attaqwa Putera. Tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata jasa beliau terhadap saya. Saya sendiri menganggap kalau saya sudah dianggap seperti anak sendiri oleh mereka. Kapan lagi bisa membalas kebaikan beliau. Walaupun hanya sebatas membawakan belanjaan atau hanya mendengarkan nasihat-nasihat (baca:omelan)  dari beliau.  Karena itu lah saya memutuskan untuk ikut dalam perjalanan kali ini.

Jumat, 16 Desember 2016

Selamat Ulang Tahun Soe Hok Gie : Apa Kabar Mahasiswa?

“…… tetapi apa yang lebih puitis selain bicara tentang kebenaran.”
(Soe Hok Gie)

Sabtu, 17 Desember 2016

Hari ini saya teringat akan seorang tokoh yang saya idolakan. Soe Hok Gie namanya. Beberapa hari yang lalu saya membaca kumpulan tulisan beliau di dalam sebuah buku yang berjudul Zaman Peralihan. Disana kita bisa membaca kumpulan tulisan Soe Hok Gie dalam beberapa kategori. Masalah Kebangsaan, Masalah kemahasiswaan, Masalah Kemanusiaan dan Catatan Turis Terpelajar merupakan kategori yang terdapat dalam buku tersebut.

Soe Hok Gie dilahirkan pada tanggal 17 Desember 1942 dan meninggal sehari sebelum ulang tahunnya, 16 Desember 1969. Hok Gie merupakan seorang tokoh mahasiswa tahun 1966 yang berperan dalam demontrasi ditahun tersebut. Idealis dan Kritis merupakan dua kata yang sangat melekat pada Gie. Sosok yang berani mengatakan benar sebagai kebenaran dan salah sebagai kesalahan. Jika boleh bercerita, saya mengenal sosok satu ini dari sebuah film yang berjudul Gie (2005). Film yang diilhami dari harian Soe Hok Gie yang dibukukan dengan judul Catatan Seorang Demontran. Pada awal menonton film ini, perhatian saya hanya jatuh kepada pendakian gunung semata. Maklum lah karena pada saat pertama kali menonton film ini saya masih duduk dibangku sekolah menengah pertama. Setelah saya menonton film ini lagi ketika tahun pertama kuliah, saya paham akan kenapa Gie naik gunung. Dalam film Rudi Habibi, ketika Habibi ada masalah, beliau sholat untuk merenung dan menyelesaikan masalahnya. Begitu juga dengan film Gie ini. Ketika ada suatu masalah, pelarian atau perenungan masalah ini dilakukan dengan naik gunung. Tetapi, bukan hanya itu alasan Gie naik Gunung. Dalam tulisannya “Menaklukkan Gunung Slamet” (Kompas, 14,15,16,17,18 Desember 1967), Gie menulis “Kami katakan bahwa kami adalah manusia-manusia yang tidak percaya dengan slogan. Patriotisme tidak mungkin tumbuh dari slogan-slogan. Seorang hanya dapat mencintai sesuatu secara sehat kalau ia mengenal obyeknya. Dan mencintai tanah air Indonesia dapat ditumbuhkan dengan mengenal Indoneia bersama rakyatnya dari dekat. Pertumbuhan jiwa yang sehat dari pemuda harus berarti pula pertumbuhan fisik yang sehat. Karena itulah kami naik gunung. Melihat alam dan rakyat dari dekat secara wajar. Disamping juga untuk menimbulkan daya tahan fisik yang kuat”. Tetapi, bukan masalah naik gunung yang ingin saya bahas kali ini. Walaupun saya juga suka naik gunung. Karena Gie sudah menjadi inspirasi dalam hidup saya.

Kehidupan Masa Kecil Hingga Remaja Soe Hok Gie

Sabtu, 10 Desember 2016

Bingung Soal Pers: Sebuah Catatan Harian



Rabu, 7 Desember 2016

“Kebenaran tidak datang dalam bentuk instruksi dari siapapun, tetapi harus dihayati”
(Soe Hok Gie)

Kemarin malam saya berdiskusi dengan beberapa teman-teman UKM. Tentang independensi dan idealisme pers. Cukup alot diskusi waktu itu, sampai kita tidak bisa menyimpulkan dan tidak bisa mengakhiri diskusi itu. Yang membuat kita bubar hanyalah peraturan tentang penutupan gerbang kampus.

Ada beberapa hal yang saya dapatkan dalam diskusi tersebut. Pertama, tentang independensi pers. Dalam hal ini, indenpendensi tidak bisa dikatakan sebagai netral atau tidak memihak golongan tertentu. Karena 9 element jurnalisme mengatakan bahwa pers itu memihak masyarakat. Indenpendensi dalam pers terjadi ketika pers melucuti semua “atribut atau pakaian” yang melekat pada dirinya. Jenis kelamin, agama, dan lain sebagainya. Yang kedua adalah fungsi pers. Ada 4 fungsi pers. Hiburan, memberikan informasi, pendidikan dan kontrol sosial.

Jika kita berbicara tentang kontrol sosial, saya jadi ingat akan sebuah kasus yang dialami oleh salah satu Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) di kampus saya. Unit Aktivitas Pers Mahasiswa (UAPM) Inovasi. Salah satu tulisan mereka ada yang dilarang terbit oleh kampus. Mereka (pers Mahasiswa) memuat tulisan tentang pemenuhan hak-hak warga sekitar kampus baru UIN Maliki Malangdi Junrejo. Saya bisa menebak alasan pihak kampus melarang tulisan ini terbit. Yaa pastinya mereka tidak ingin aib atau kesalahan mereka diketahui khalayak ramai, khususnya para mahasiswa baru yang sudah termakan opini bahwa UIN Maliki Malang merupakan UIN terbaik seluruh Indonesia.

Menurut saya, lebih baik UIN Maliki Malang diterima secara wajar. Biarlah para Mahasiswa melihat beberapa aib, kesalahan atau kekhilafan pihak kampus. Para penjabat kampus hanyalah manusia biasa bukan Nabi Muhammad. Janganlah ada yang ditutup-tutupi. Makin banyak kesalahan atau kekhilafan yang direspon maka makin baik. Artinya, para mahasiswa akan sadar bahwa keadaan kampus tidak baik-baik saja. Biar mereka nanti akan memperbaiki kesalahan-kesalahan itu, untuk UIN Maliki Malang yang lebih baik.

Jika kita mengumpakan masyarakat kampus sebagai sebuah negara kecil, maka dalam negara itu terdapat beberapa media penyiaran. Contoh dalam di Indonesia ada Kompas, Jawa Post, Metro TV, TV one dan lain sebagainya. Di Negara UIN Maliki Malang sendiri, terdapat 3 lembaga pers. Gema, Suara Akademika dan UAPM Inovasi. Kalau kita lihat dari segi isi tulisan atau berita yang dimuat, Gema dan Suara Akademika selalu pro terhadap kampus. Dalam artian mereka selalu memberitakan tentang hal-hal yang baik saja. Seharusnya, disini Inovasi muncul sebagai penyeimbang. Kita tidak bisa memungkiri kalau kita hanya manusia biasa yang tidak luput dari kesalahan. Kembali lagi kepada fungsi pers yaitu social control. Artinya pihak kampus harus memfasilitasi Inovasi. Jika tidak, apa bedanya pihak kampus dengan rezim Soekarno dan Soeharto. Kita semua tahu bagaimana keadaan pers pada zaman itu. Pada zaman itu yang ada hanya pers yang pro terhadap pemerintah saja. Seperti keadaan indonesia sekarang lah. Ada media yang Pro terhadap pemerintah ada juga yang kontra. Semua itu terjadi guna keseimbangan dalam hal informasi. Kita bisa lihat bagaimana Napoleon Bonaparte mendirikan lembaga Oposisi untuk mengkritik seluruh kebijakan yang dibuat oleh pemerintah. Tentunya tujuan pendirian lembaga oposisi ini untuk menciptakan keseimbangan. Sama seperti atom, yang memiliki elektron dan proton.  Atom yang merupakan bagian terkecil adalah hasil perjuangan dua kodrat tersebut. Bisa juga dikatakan kodrat menolak dan kodrat menarik. Hal ini sama dengan Tesis dan antitesis yang menghasilkan sintesis.

Pada tahun 1965, di Indonesia terjadi pelarangan membaca bukunya Pramoedya Ananta Toer yang berjudul “Tjerita dari Blora” dan bukunya Mochtar Lubis yang berjudul “Djalan Tak ada Ujung”. Dua buku tersebut merupakan manifestasi dari ketakutan. Takut akan kebebasan mimbar-mimbar kampus (Soe Hok Gie, 1968). seharusnya, sudah menjadi suatu kewajiban di dalam suatu untuk memelihara kebebasan berfikir dan berpendapat. Toh bidang seorang mahasiswa adalah berfikir dan mencipta hal baru. Dan bagi mahasiswa yang menulis tentang kesalahan atau kebobrokan kampus, harus difasilitasi oleh pihak kampus. padalah tulisan anggota Inovasi sudah melalui verifikasi. Mereka sudah memverifikasi kepada Pak Sutaman (Humas UIN). Lalu kenapa kebebasan di kampus dibatasi?

A Man is ad he thinks you can’t change it” Seorang manusia adalah seperti yang dia pikirkan, kau tak dapat mengubahnya (film ... And The Fifth Rider is Fear). Lalu siapakah kita? Kita adalah pemuda (mahasiswa). Sebagai mahasiswa kita tidak boleh mengingkari wujud kita. Wujud kita sebagai pemuda yang masih belajar dan mempunyai cita-cita yang tinggi. Seorang Pers Mahasiswa yang mempunyai cita-cita luhur untuk kampus yang lebih baik. Oleh karena itu mahasiswa berani untuk berterus terang tentang keadaan kampusnya. Dan seharusnya pihak kampus pun begitu. Berani jujur jika keadaan kampusnya tidak baik-baik saja. Kebenaran tidak datang dalam bentuk instruksi dari siapapun, tetapi harus dihayati. Dalam lingkup nasional, Dewan Pers punya UU 40 tahun 1999 untuk berinteraksi dengan pemerintah. Seharusnya dikampus pun begitu. Diatur tentang kebebasan berpendapat bagi para Mahasiswanya. Karena Mahasiswa tidak hanya menyoal tentang akademik saja.

Selasa, 05 Januari 2016

Tidaklah Indah Dunia Ini, jika Hanya Ada Satu Warna

Sebenarnya tulisan ini sudah lama ingin saya publikasikan. Tetapi, karena ada beberapa pertimbagan dan juga belum ada keberanian maka tulisan ini urung saya publikasikan. Dan mungkin inilah saat yang tepat untuk mempublikasikan tulisan ini. Tulisan ini saya anggap sebagai keresahan saya dalam beberapa waktu ini. Bukan curhat, bukan juga kritik. Tapi saya hanya ingin mengutarakan pendapat saya.
Sekitar beberapa minggu yang lalu saya mendapatkan sebuah broadcast message dari grup alumni pondok pesantren tempat saya bersekolah dulu. Isinya cukup membuat saya kaget, pesan itu berisi tentang akan diadakan sebuah demo. Demo ini terjadi karena pendirian sebuah gereja yang menurut beberapa ulama disana menyalahi peraturan. Dan mereka menuntut pencabutan izin gereja tersebut. Kira-kira begitulah isi pesan yang saya dapatkan.
18 tahun saya hidup dalam lingkungan yang homogen. Homogen dalam artian semua orang di lingkungan yang saya tempati semuanya beragama Islam. Tidak ada yang beragama selain islam. Apalagi setelah lulus sekolah dasar saya melanjutkan pendidikan di sebuah pondok pesantren dibilangan Bekasi. Ketika saya memulai kehidupan sebagai mahasiswa, saya harus belajar hidup bersama. Itu berarti, semasa belajar, saya harus memposisikan diri untuk memandang dan memperlakukan sesame dengan setara. Karena dunia kampus mempertemukan saya dengan orang-orang yang berasal dari berbagai latar belakang agama. Setiap agama tentunya membawa nilai-nilai yang berbeda. Maka dari itu, untuk tetap menjalani kehidupan dengan baik, saya harus mempunyai sikap tenggang rasa, agar perbedaan ini dapat diterima dan dihormati. Dalam satu tulisan Prof. Gunawan Tjahjono, beliau mengatakan bahwa. Sikap tenggang rasa akan tumbuh jika keberterimaan perbedaan berlangsung dalam kesetaraan dan saling menghormati.
Menurut Mohammad Munip (Direktur Eksekutif International Conference on religion and peace), berbagai persoalan bernuansakan agama, mulai dari intoleransi, radikalisme, bahkan ekstremisme disebabkan oleh sempitnya pemahaman keagamaan seseorang terhadap agamanya sendiri, selain ketidaktahuan seseorang itu terhadap agama atau penganut agama lainnya. Maka, muncullah pemikiran bahwa yang ada dimuka bumi ini hanyalah diri dan kelompoknya saja. Yang berbeda dianggap aneh dan menyimpang bahkan sesat. Pernyataan ini membuat saya seperti dipukul. Indonesia bukan hanya Islam saja, Protestan saja, Katolik saja, Hindu saja, Budha saja, atau bukan Konghuchu saja. Semua agama tersebut diakui oleh Negara. Lalu, apakah hanya karena kita mayoritas kita boleh bertindak seenaknya terhadap minoritas? Pertanyaan ini bukan hanya untuk umat islam saja. Tetapi, untuk semua agama yang mayoritas disuatu daerah. Bukan hanya kejadian demo pendirian gereja di bekasi tetapi juga kejadian pembakaran gereja di tolikara. Gampangnya, jika kita ingin tenang, nyaman, dihormati, dan dicintai, tentu kita juga harus memberikan kesan tersebut terhadap orang lain. Itu teori sosiologis sederhana.
Lalu apa yang saya ingin sampaikan? Saya cuman ingin menyampaikan bahwa kita hidup di Indonesia bukan hanya terdiri atas satu agama saja. Indonesia terdiri dari berbagai macam agama. Khusus untuk kasus pendirian gereja di bekasi seperti yang saya ceritakan diatas. Coba kita telaah dari syarat pendirian rumah ibadah. Tata cara pendirian rumah ibadah diatur dalam peraturan bersama Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri Nomor 8 dan Nomor 9 tahun 2006 tentang pedoman pelaksanaan Kepala Daerah/ Wakil Kepala Daerah dalam Pemeliharaan Kerukunan Umat Beragama (FKUB), dan Pendirian Rumah Ibadah. Pada pasal 13 Perber Menag dan Mendagri No. 8/9 Tahun 2006, disebutkan bahwa pendirian rumah ibadah didasarkan kepada keperluan nyata dan sungguh-sungguh berdasarkan jumlah penduduk bagi pelayanan umat beragama yang bersangkutan di wilayah kelurahan/desa. Pendirian rumah ibadah ini dilakukan dengan tetap menjaga kerukunan umat beragama, tidak mengganggu ketertiban dan kenyamanan umum, serta memenuhi peraturan perundang-undangan. Apabila keperluan nyata bagi pelayanan umat beragama di wilayah kelurahan/desa tidak terpenuhi, maka pertimbangkan komposisi jumlah penduduk digunakan batas wilayah kecamatan atau kabupaten/kota/provinsi. Selain itu, ada syarat administratif yang harus dipenuhi, antara lain :
1.      Daftar nama dan Kartu Tanda Penduduk pengguna rumah ibadah paling sedikit 90 orang yang disahkan penjabat setempat sesuai dengan tingkat batas wilayah.
2.      Dukungan masyarakat setempat paling sedikit 60 orang yang disahkan oleh lurah/kepala desa.
3.      Rekomendasi tertulis dari kantor departemen agama kabupaten/kota
4.      Rekomendasi tertulis dari Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten/kota.
Permohonan pendirian diajukan oleh panitia pembangunan rumah ibadah kepada bupati.walikota untuk memperoleh Izin Mendirikan Bangunan (IMB) rumah ibadah. Bupati/walikota memberikan keputusan paling lambat 90 hari setelah permohonan pendirian rumah ibadah diajukan oleh panitia.
Jadi, jika semua syarat tersebut sudah dipenuhi maka, rumah ibadah tersebut legal untuk didirikan. Nah, yang jadi permasalahannya adalah bagaimana ketika data dipalsukan dan ada praktek sogok-menyogok untuk memuluskan izinnya? Seperti yang terjadi di bekasi. Menurut broadcast message yang saya dapatkan, data persetujuan warga dipalsukan dan ada praktek sogok-menyogok untuk memuluskan izin tersebut. Seharusnya, yang kita lakukan adalah bukan mempermasalahkan pendirian rumah ibadah tersebut. Tapi, buktikan bahwa tuduhan itu benar dan laporkan kepada pihak yang berwajib. karena Negara kita Negara hukum, yaaa walaupun hukumnya kadang timpang. Tapi, alangkah baiknya untuk kita mematuhi system yang telah berlaku di Negara ini. Sistem akan berjalan baik jika system yang menggerakkan manusia bukan manusia yang menggerakkan system. Itu argument saya dari segi aturan yang berlaku di Negara ini.
Pendirian rumah ibadah erat kaitannya dengan toleransi dan menghargai antar umat beragama. Adanya rasa toleransi dan menghargai antar umat beragama tanpa menggoyahkan keyakinan masing-masing bukanlah hal yang sulit untuk diterapkan di Indonesia yang notebene masyarakatnya heterogen yang secara budaya memiliki nilai untuk hidup rukun dan damai dalam perbedaan selama ratusan tahun. Yaa memang tidak bisa dipungkiri jikalau sekarang Indonesia diwarnai oleh berbagai peristiwa yang merusak kerukunan dan kedamaian umat beragama. Lalu apa yang merusak tatanan kedamaian dan kerukanan antar umat beragama di Indonesia?
Coba kita kembali ke masa kita sekolah dulu. Sejumlah pengamat dan akademisi pendidikan mengatakan bahwa pendidikan agama di sekolah-sekolah tidak banyak mengajarkan bagaimana hidup bersama, berdampingan dengan umat beragama lain yang berbeda. Yang terjadi justru banyak doktrin untuk hanya meyakini agamanya sendiri dan dalam waktu bersamaan menilai keliru bahkan sesat ajaran agama yang dianut oleh orang lain. Akibatnya, peserta didik tumbuh menjadi manusia beragama yang ekslusif. Yang hanya menilai ajaran agamanya sendiri yang paling benar, sementara yang lain salah, sesat, dan tidak diterima oleh tuhan. Nah, hal seperti inilah yang kontrapoduktif bagi upaya mewujudkan hidup damai dan rukun dalam bingkai kemajemukan. Ketika dulu bersekolah di pondok pesantren, saya sempat menjadi seperti ini. Menilai agama lain salah bahkan sesat. Jangankan agama lain, ketika ada suatu aliran dalam Islam yang tidak sesuai dengan ajaran yang diterima di pesantren. Saya akan menganggap aliran itu sesat. Setelah saya menjalani kehidupan sebagai mahasiswa barulah saya mulai menganggap bahwa perbedaan itu indah. Seandainya, pendidikan agama disekolah menekankan pada prinsip humanism. Mungkin tidak akan terjadi hal-hal yang mengganggu kehidupan beragama. Humanisme adalah sebuah cara pandang yang melihat manusia sebagai unsur penting yang memiliki keluhuran dan martabat. Humanism menurut pembaruan hidup dan terlebih sikap yang terus-menerus mau menjadi manusiawi dan menghargai sifat kemanusiaan. Intinya humanisme mengajarkan penghormatan terhadap martabat manusia.
Seperti yang dikatakan oleh Muhammad Munif diatas, bahwa berbagai persoalan bernuansakan agama, mulai dari intoleransi, radikalisme, bahkan ekstremisme disebabkan oleh sempitnya pemahaman keagamaan seseorang terhadap agamanya sendiri, selain ketidaktahuan seseorang itu terhadap agama atau penganut agama lainnya. Yang saya garis bawahi adalah “sempitnya pemahaman keagamaan seseorang terhadap agamanya sendiri”. Greg Barton mengatakan bahwa dalam membaca Islam kita harus mampu melihat arus-arus yang berada dalam tradisi Islam, baik yang progesif maupun yang radikal. Islam progesif merupakan salah satu pandangan keislaman yang moderat, karena mampu memahami nilai-nilai kemodernan, seperti demokratis, HAM, dan pluralism secara baik. Berfikir moderat, bertinda terbuka, toleran, menghormati dan menghargai keyakinan orang lain itulah yang harus kita miliki demi terciptanya kerukunan dan kedamaian umat beragama. Untuk bersikap seperti diatas, pendekatan dan persepektif yang digunakan adalah Pluralisme dan Perenialisme. Pluralisma akan mengantarkan kita agar bersikap postif terhadap menghadapi fakta kebinekaan dan perbedaan. Sedangkan perenialisme akan memberikan kita pemahaman dan keinsyafan akan adanya titik temu ajaran, esensi-esensi agama, kearifan dan spritualisme agama.
Nurcholish Madjid pernah menulis di Republika pada 10 Agustus 1999. Beliau mengatakan demikian :

Puralisme tidak dapat dipahami hanya dengan mengatakan bahwa masyarakat kita majemuk, beraneka ragam, terdiri dari berbagai suku dan agama, yang justru menggambarkan kesan fragmentasi, bukan pluralism. Pluralisme juga tdak boleh dipahami sebagai “kebaikan negative” (negative good), hanya ditilik dari kegunaannya menyingkirkan fanatisme (to keep fanatism at bay). Pluralisme harus dipahami sebagai “pertalian sejati kebinekaan dalam ikatan-ikatan keadaban”. Bahkan pluralisme adalah suatu keharusan bagi keselamatan umat manusia, antara lain melalui mekanisme pengawasan dan pengimbangan yang dihasilkannya. Dalam kita suci justru disebutkan bahwa Allah menciptakan mekanisme pengawasan dan pengimbangan dan pengimbangan antara sesama manusia guna memelihara keutuhan bumi, dan merupakan salah satu wujud kemurahan tuhan yang melimpah kepada manusia.
“seandainya Allah tidak mengimbangi segolongan manusia dengan segolongan yang lain, maka pastilah bumi hancur; namun Allah mempunyai kemurahan yang melimpah kepada seluruh alam.” (Alquran, Surah Al-Baqarah/2:251).

yang mau saya singgung adalah ayat Alquran yang dikutip oleh Cak Nur tersebut. Allah saja mengimbangi satu golongan dengan golongan yang lainnya. Artinya Allah menciptakan manusia tidak hanya terdiri atas satu golongan saja. Tidak hanya terdiri dari satu agama saja. Kenyataannya agama samawi yang turun ke Bumi ada 3, Yahudi, Nasrani dan terakhir Islam. Ayat diatas juga linier dengan Surah Al-hujarat ayat 13 yang artinya “Hai Manusia, sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan dan menjadikan kami berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal .......”. Allah menciptakan manusia yang terdiri atas berbagai macam golongan bukan untuk kita saling menindas, saling menjatuhkan dan saling menyakiti satu sama lain, melainkan untuk kita saling mengenal satu sama lain. Lebih lanjut Muhammed Arkoun Mengatakan “Bukan untuk memberikan sumbangan terselenggaranya suatu perjumpaan (encounter) yang akan membuat kita berfikir cara pandang “saya dan kita versus kamu dan mereka”, melainkan bagi terciptanya suatu ruang baru bagi kesalingpahaman dan kebebasan”. Perkataan ini bisa dijadikan untuk memberikan pemahaman bahwa keberagaman yang Allah ciptakan adalan untuk kita saling paham satu sama lain bukan untuk saling membuktikan eksistensi golongan sendiri.
Hilangnya kedamaian antar umat beragama yang ada di Indonesia sebenarnya sudah diperingtkan oleh Allah SWT. Allah berfirman yang artinya: Jangan berdebat dengan para pengikut wahyu terdahulu, kecuali secara lemah lembut --- jika tidak demikian mereka akan cenderung berbuat jahat--- dan katakanlah: “ kami beriman kepada apa yang telah diberikan kepada kami, serta apa yang telah diberikan kepadamu, karena tuhan kami dan tuhan kamu adalah satu dan sama, dan kepadanya kita menyerahkan diri”. (QS 29: 46). Seperti yang saya katakana diatas bahwa agama samawi ada 3, Yahudi, Nasrani dan yang terakhir Islam. Kristen sekarang itu merupakan representative dari Nasrani walaupun banyak yang mengatakan bahwa injil digunakan telah mengalami banyak perubahan. Jika kita tarik ke ayat diatas, kita dilarang untuk berdebat dengan mereka (para pengikut wahyu terdahulu) menggunakan cara yang kasar. Ketika itu terjadi, mereka akan membalas kita dengan perbuatan yang jahat. Allah sudah memperingatkan kita akan hal tersebut, tetapi kenapa kita masih melakukan itu? Toh dalam surat Al-Kafirun ayat 6 Allah juga berfirman, yang artinya : bagimu agamamu, bagiku agamaku. Itu kan sudah jelas bahwa bagi mereka yaa agama mereka. Bagi kita yaaa agama kita. Janganlah menggangu keharmonisan masyarakat dengan perang antar agama.
Kembali ke teori sosiologis tadi. Jika kita ingin tenang, nyaman, dihormati, dan dicintai, tentu kita juga harus memberikan kesan tersebut terhadap orang lain. Artinya jika kita ingin damai, maka berilah rasa damai kepada orang sekitar kita. Pepatah arab dalam Mahfuzhot juga mengatakan “Man Zholama, Zhulima” Barangsiapa yang menzolimi maka akan dizalimi. Hukum sebab akibat terjadi disini. Lantas,apakah kita masih memaksakan bahwa agama yang kita anut benar? Kita berdakwah atau hanya memaksakan eksistensi keberadaan agama kita? Ketika kita menjadi kaum minoritas apakah kita masih bisa berbuat sebebas ini? Coba kita fikirkan baik-baik akibat yang akan ditimbulkan oleh tindakan kita yang sekarang.


Wallahu a’lam Bish Showab