Jumat, 16 Desember 2016

Selamat Ulang Tahun Soe Hok Gie : Apa Kabar Mahasiswa?

“…… tetapi apa yang lebih puitis selain bicara tentang kebenaran.”
(Soe Hok Gie)

Sabtu, 17 Desember 2016

Hari ini saya teringat akan seorang tokoh yang saya idolakan. Soe Hok Gie namanya. Beberapa hari yang lalu saya membaca kumpulan tulisan beliau di dalam sebuah buku yang berjudul Zaman Peralihan. Disana kita bisa membaca kumpulan tulisan Soe Hok Gie dalam beberapa kategori. Masalah Kebangsaan, Masalah kemahasiswaan, Masalah Kemanusiaan dan Catatan Turis Terpelajar merupakan kategori yang terdapat dalam buku tersebut.

Soe Hok Gie dilahirkan pada tanggal 17 Desember 1942 dan meninggal sehari sebelum ulang tahunnya, 16 Desember 1969. Hok Gie merupakan seorang tokoh mahasiswa tahun 1966 yang berperan dalam demontrasi ditahun tersebut. Idealis dan Kritis merupakan dua kata yang sangat melekat pada Gie. Sosok yang berani mengatakan benar sebagai kebenaran dan salah sebagai kesalahan. Jika boleh bercerita, saya mengenal sosok satu ini dari sebuah film yang berjudul Gie (2005). Film yang diilhami dari harian Soe Hok Gie yang dibukukan dengan judul Catatan Seorang Demontran. Pada awal menonton film ini, perhatian saya hanya jatuh kepada pendakian gunung semata. Maklum lah karena pada saat pertama kali menonton film ini saya masih duduk dibangku sekolah menengah pertama. Setelah saya menonton film ini lagi ketika tahun pertama kuliah, saya paham akan kenapa Gie naik gunung. Dalam film Rudi Habibi, ketika Habibi ada masalah, beliau sholat untuk merenung dan menyelesaikan masalahnya. Begitu juga dengan film Gie ini. Ketika ada suatu masalah, pelarian atau perenungan masalah ini dilakukan dengan naik gunung. Tetapi, bukan hanya itu alasan Gie naik Gunung. Dalam tulisannya “Menaklukkan Gunung Slamet” (Kompas, 14,15,16,17,18 Desember 1967), Gie menulis “Kami katakan bahwa kami adalah manusia-manusia yang tidak percaya dengan slogan. Patriotisme tidak mungkin tumbuh dari slogan-slogan. Seorang hanya dapat mencintai sesuatu secara sehat kalau ia mengenal obyeknya. Dan mencintai tanah air Indonesia dapat ditumbuhkan dengan mengenal Indoneia bersama rakyatnya dari dekat. Pertumbuhan jiwa yang sehat dari pemuda harus berarti pula pertumbuhan fisik yang sehat. Karena itulah kami naik gunung. Melihat alam dan rakyat dari dekat secara wajar. Disamping juga untuk menimbulkan daya tahan fisik yang kuat”. Tetapi, bukan masalah naik gunung yang ingin saya bahas kali ini. Walaupun saya juga suka naik gunung. Karena Gie sudah menjadi inspirasi dalam hidup saya.

Kehidupan Masa Kecil Hingga Remaja Soe Hok Gie

Sabtu, 10 Desember 2016

Bingung Soal Pers: Sebuah Catatan Harian



Rabu, 7 Desember 2016

“Kebenaran tidak datang dalam bentuk instruksi dari siapapun, tetapi harus dihayati”
(Soe Hok Gie)

Kemarin malam saya berdiskusi dengan beberapa teman-teman UKM. Tentang independensi dan idealisme pers. Cukup alot diskusi waktu itu, sampai kita tidak bisa menyimpulkan dan tidak bisa mengakhiri diskusi itu. Yang membuat kita bubar hanyalah peraturan tentang penutupan gerbang kampus.

Ada beberapa hal yang saya dapatkan dalam diskusi tersebut. Pertama, tentang independensi pers. Dalam hal ini, indenpendensi tidak bisa dikatakan sebagai netral atau tidak memihak golongan tertentu. Karena 9 element jurnalisme mengatakan bahwa pers itu memihak masyarakat. Indenpendensi dalam pers terjadi ketika pers melucuti semua “atribut atau pakaian” yang melekat pada dirinya. Jenis kelamin, agama, dan lain sebagainya. Yang kedua adalah fungsi pers. Ada 4 fungsi pers. Hiburan, memberikan informasi, pendidikan dan kontrol sosial.

Jika kita berbicara tentang kontrol sosial, saya jadi ingat akan sebuah kasus yang dialami oleh salah satu Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) di kampus saya. Unit Aktivitas Pers Mahasiswa (UAPM) Inovasi. Salah satu tulisan mereka ada yang dilarang terbit oleh kampus. Mereka (pers Mahasiswa) memuat tulisan tentang pemenuhan hak-hak warga sekitar kampus baru UIN Maliki Malangdi Junrejo. Saya bisa menebak alasan pihak kampus melarang tulisan ini terbit. Yaa pastinya mereka tidak ingin aib atau kesalahan mereka diketahui khalayak ramai, khususnya para mahasiswa baru yang sudah termakan opini bahwa UIN Maliki Malang merupakan UIN terbaik seluruh Indonesia.

Menurut saya, lebih baik UIN Maliki Malang diterima secara wajar. Biarlah para Mahasiswa melihat beberapa aib, kesalahan atau kekhilafan pihak kampus. Para penjabat kampus hanyalah manusia biasa bukan Nabi Muhammad. Janganlah ada yang ditutup-tutupi. Makin banyak kesalahan atau kekhilafan yang direspon maka makin baik. Artinya, para mahasiswa akan sadar bahwa keadaan kampus tidak baik-baik saja. Biar mereka nanti akan memperbaiki kesalahan-kesalahan itu, untuk UIN Maliki Malang yang lebih baik.

Jika kita mengumpakan masyarakat kampus sebagai sebuah negara kecil, maka dalam negara itu terdapat beberapa media penyiaran. Contoh dalam di Indonesia ada Kompas, Jawa Post, Metro TV, TV one dan lain sebagainya. Di Negara UIN Maliki Malang sendiri, terdapat 3 lembaga pers. Gema, Suara Akademika dan UAPM Inovasi. Kalau kita lihat dari segi isi tulisan atau berita yang dimuat, Gema dan Suara Akademika selalu pro terhadap kampus. Dalam artian mereka selalu memberitakan tentang hal-hal yang baik saja. Seharusnya, disini Inovasi muncul sebagai penyeimbang. Kita tidak bisa memungkiri kalau kita hanya manusia biasa yang tidak luput dari kesalahan. Kembali lagi kepada fungsi pers yaitu social control. Artinya pihak kampus harus memfasilitasi Inovasi. Jika tidak, apa bedanya pihak kampus dengan rezim Soekarno dan Soeharto. Kita semua tahu bagaimana keadaan pers pada zaman itu. Pada zaman itu yang ada hanya pers yang pro terhadap pemerintah saja. Seperti keadaan indonesia sekarang lah. Ada media yang Pro terhadap pemerintah ada juga yang kontra. Semua itu terjadi guna keseimbangan dalam hal informasi. Kita bisa lihat bagaimana Napoleon Bonaparte mendirikan lembaga Oposisi untuk mengkritik seluruh kebijakan yang dibuat oleh pemerintah. Tentunya tujuan pendirian lembaga oposisi ini untuk menciptakan keseimbangan. Sama seperti atom, yang memiliki elektron dan proton.  Atom yang merupakan bagian terkecil adalah hasil perjuangan dua kodrat tersebut. Bisa juga dikatakan kodrat menolak dan kodrat menarik. Hal ini sama dengan Tesis dan antitesis yang menghasilkan sintesis.

Pada tahun 1965, di Indonesia terjadi pelarangan membaca bukunya Pramoedya Ananta Toer yang berjudul “Tjerita dari Blora” dan bukunya Mochtar Lubis yang berjudul “Djalan Tak ada Ujung”. Dua buku tersebut merupakan manifestasi dari ketakutan. Takut akan kebebasan mimbar-mimbar kampus (Soe Hok Gie, 1968). seharusnya, sudah menjadi suatu kewajiban di dalam suatu untuk memelihara kebebasan berfikir dan berpendapat. Toh bidang seorang mahasiswa adalah berfikir dan mencipta hal baru. Dan bagi mahasiswa yang menulis tentang kesalahan atau kebobrokan kampus, harus difasilitasi oleh pihak kampus. padalah tulisan anggota Inovasi sudah melalui verifikasi. Mereka sudah memverifikasi kepada Pak Sutaman (Humas UIN). Lalu kenapa kebebasan di kampus dibatasi?

A Man is ad he thinks you can’t change it” Seorang manusia adalah seperti yang dia pikirkan, kau tak dapat mengubahnya (film ... And The Fifth Rider is Fear). Lalu siapakah kita? Kita adalah pemuda (mahasiswa). Sebagai mahasiswa kita tidak boleh mengingkari wujud kita. Wujud kita sebagai pemuda yang masih belajar dan mempunyai cita-cita yang tinggi. Seorang Pers Mahasiswa yang mempunyai cita-cita luhur untuk kampus yang lebih baik. Oleh karena itu mahasiswa berani untuk berterus terang tentang keadaan kampusnya. Dan seharusnya pihak kampus pun begitu. Berani jujur jika keadaan kampusnya tidak baik-baik saja. Kebenaran tidak datang dalam bentuk instruksi dari siapapun, tetapi harus dihayati. Dalam lingkup nasional, Dewan Pers punya UU 40 tahun 1999 untuk berinteraksi dengan pemerintah. Seharusnya dikampus pun begitu. Diatur tentang kebebasan berpendapat bagi para Mahasiswanya. Karena Mahasiswa tidak hanya menyoal tentang akademik saja.

Selasa, 05 Januari 2016

Tidaklah Indah Dunia Ini, jika Hanya Ada Satu Warna

Sebenarnya tulisan ini sudah lama ingin saya publikasikan. Tetapi, karena ada beberapa pertimbagan dan juga belum ada keberanian maka tulisan ini urung saya publikasikan. Dan mungkin inilah saat yang tepat untuk mempublikasikan tulisan ini. Tulisan ini saya anggap sebagai keresahan saya dalam beberapa waktu ini. Bukan curhat, bukan juga kritik. Tapi saya hanya ingin mengutarakan pendapat saya.
Sekitar beberapa minggu yang lalu saya mendapatkan sebuah broadcast message dari grup alumni pondok pesantren tempat saya bersekolah dulu. Isinya cukup membuat saya kaget, pesan itu berisi tentang akan diadakan sebuah demo. Demo ini terjadi karena pendirian sebuah gereja yang menurut beberapa ulama disana menyalahi peraturan. Dan mereka menuntut pencabutan izin gereja tersebut. Kira-kira begitulah isi pesan yang saya dapatkan.
18 tahun saya hidup dalam lingkungan yang homogen. Homogen dalam artian semua orang di lingkungan yang saya tempati semuanya beragama Islam. Tidak ada yang beragama selain islam. Apalagi setelah lulus sekolah dasar saya melanjutkan pendidikan di sebuah pondok pesantren dibilangan Bekasi. Ketika saya memulai kehidupan sebagai mahasiswa, saya harus belajar hidup bersama. Itu berarti, semasa belajar, saya harus memposisikan diri untuk memandang dan memperlakukan sesame dengan setara. Karena dunia kampus mempertemukan saya dengan orang-orang yang berasal dari berbagai latar belakang agama. Setiap agama tentunya membawa nilai-nilai yang berbeda. Maka dari itu, untuk tetap menjalani kehidupan dengan baik, saya harus mempunyai sikap tenggang rasa, agar perbedaan ini dapat diterima dan dihormati. Dalam satu tulisan Prof. Gunawan Tjahjono, beliau mengatakan bahwa. Sikap tenggang rasa akan tumbuh jika keberterimaan perbedaan berlangsung dalam kesetaraan dan saling menghormati.
Menurut Mohammad Munip (Direktur Eksekutif International Conference on religion and peace), berbagai persoalan bernuansakan agama, mulai dari intoleransi, radikalisme, bahkan ekstremisme disebabkan oleh sempitnya pemahaman keagamaan seseorang terhadap agamanya sendiri, selain ketidaktahuan seseorang itu terhadap agama atau penganut agama lainnya. Maka, muncullah pemikiran bahwa yang ada dimuka bumi ini hanyalah diri dan kelompoknya saja. Yang berbeda dianggap aneh dan menyimpang bahkan sesat. Pernyataan ini membuat saya seperti dipukul. Indonesia bukan hanya Islam saja, Protestan saja, Katolik saja, Hindu saja, Budha saja, atau bukan Konghuchu saja. Semua agama tersebut diakui oleh Negara. Lalu, apakah hanya karena kita mayoritas kita boleh bertindak seenaknya terhadap minoritas? Pertanyaan ini bukan hanya untuk umat islam saja. Tetapi, untuk semua agama yang mayoritas disuatu daerah. Bukan hanya kejadian demo pendirian gereja di bekasi tetapi juga kejadian pembakaran gereja di tolikara. Gampangnya, jika kita ingin tenang, nyaman, dihormati, dan dicintai, tentu kita juga harus memberikan kesan tersebut terhadap orang lain. Itu teori sosiologis sederhana.
Lalu apa yang saya ingin sampaikan? Saya cuman ingin menyampaikan bahwa kita hidup di Indonesia bukan hanya terdiri atas satu agama saja. Indonesia terdiri dari berbagai macam agama. Khusus untuk kasus pendirian gereja di bekasi seperti yang saya ceritakan diatas. Coba kita telaah dari syarat pendirian rumah ibadah. Tata cara pendirian rumah ibadah diatur dalam peraturan bersama Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri Nomor 8 dan Nomor 9 tahun 2006 tentang pedoman pelaksanaan Kepala Daerah/ Wakil Kepala Daerah dalam Pemeliharaan Kerukunan Umat Beragama (FKUB), dan Pendirian Rumah Ibadah. Pada pasal 13 Perber Menag dan Mendagri No. 8/9 Tahun 2006, disebutkan bahwa pendirian rumah ibadah didasarkan kepada keperluan nyata dan sungguh-sungguh berdasarkan jumlah penduduk bagi pelayanan umat beragama yang bersangkutan di wilayah kelurahan/desa. Pendirian rumah ibadah ini dilakukan dengan tetap menjaga kerukunan umat beragama, tidak mengganggu ketertiban dan kenyamanan umum, serta memenuhi peraturan perundang-undangan. Apabila keperluan nyata bagi pelayanan umat beragama di wilayah kelurahan/desa tidak terpenuhi, maka pertimbangkan komposisi jumlah penduduk digunakan batas wilayah kecamatan atau kabupaten/kota/provinsi. Selain itu, ada syarat administratif yang harus dipenuhi, antara lain :
1.      Daftar nama dan Kartu Tanda Penduduk pengguna rumah ibadah paling sedikit 90 orang yang disahkan penjabat setempat sesuai dengan tingkat batas wilayah.
2.      Dukungan masyarakat setempat paling sedikit 60 orang yang disahkan oleh lurah/kepala desa.
3.      Rekomendasi tertulis dari kantor departemen agama kabupaten/kota
4.      Rekomendasi tertulis dari Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten/kota.
Permohonan pendirian diajukan oleh panitia pembangunan rumah ibadah kepada bupati.walikota untuk memperoleh Izin Mendirikan Bangunan (IMB) rumah ibadah. Bupati/walikota memberikan keputusan paling lambat 90 hari setelah permohonan pendirian rumah ibadah diajukan oleh panitia.
Jadi, jika semua syarat tersebut sudah dipenuhi maka, rumah ibadah tersebut legal untuk didirikan. Nah, yang jadi permasalahannya adalah bagaimana ketika data dipalsukan dan ada praktek sogok-menyogok untuk memuluskan izinnya? Seperti yang terjadi di bekasi. Menurut broadcast message yang saya dapatkan, data persetujuan warga dipalsukan dan ada praktek sogok-menyogok untuk memuluskan izin tersebut. Seharusnya, yang kita lakukan adalah bukan mempermasalahkan pendirian rumah ibadah tersebut. Tapi, buktikan bahwa tuduhan itu benar dan laporkan kepada pihak yang berwajib. karena Negara kita Negara hukum, yaaa walaupun hukumnya kadang timpang. Tapi, alangkah baiknya untuk kita mematuhi system yang telah berlaku di Negara ini. Sistem akan berjalan baik jika system yang menggerakkan manusia bukan manusia yang menggerakkan system. Itu argument saya dari segi aturan yang berlaku di Negara ini.
Pendirian rumah ibadah erat kaitannya dengan toleransi dan menghargai antar umat beragama. Adanya rasa toleransi dan menghargai antar umat beragama tanpa menggoyahkan keyakinan masing-masing bukanlah hal yang sulit untuk diterapkan di Indonesia yang notebene masyarakatnya heterogen yang secara budaya memiliki nilai untuk hidup rukun dan damai dalam perbedaan selama ratusan tahun. Yaa memang tidak bisa dipungkiri jikalau sekarang Indonesia diwarnai oleh berbagai peristiwa yang merusak kerukunan dan kedamaian umat beragama. Lalu apa yang merusak tatanan kedamaian dan kerukanan antar umat beragama di Indonesia?
Coba kita kembali ke masa kita sekolah dulu. Sejumlah pengamat dan akademisi pendidikan mengatakan bahwa pendidikan agama di sekolah-sekolah tidak banyak mengajarkan bagaimana hidup bersama, berdampingan dengan umat beragama lain yang berbeda. Yang terjadi justru banyak doktrin untuk hanya meyakini agamanya sendiri dan dalam waktu bersamaan menilai keliru bahkan sesat ajaran agama yang dianut oleh orang lain. Akibatnya, peserta didik tumbuh menjadi manusia beragama yang ekslusif. Yang hanya menilai ajaran agamanya sendiri yang paling benar, sementara yang lain salah, sesat, dan tidak diterima oleh tuhan. Nah, hal seperti inilah yang kontrapoduktif bagi upaya mewujudkan hidup damai dan rukun dalam bingkai kemajemukan. Ketika dulu bersekolah di pondok pesantren, saya sempat menjadi seperti ini. Menilai agama lain salah bahkan sesat. Jangankan agama lain, ketika ada suatu aliran dalam Islam yang tidak sesuai dengan ajaran yang diterima di pesantren. Saya akan menganggap aliran itu sesat. Setelah saya menjalani kehidupan sebagai mahasiswa barulah saya mulai menganggap bahwa perbedaan itu indah. Seandainya, pendidikan agama disekolah menekankan pada prinsip humanism. Mungkin tidak akan terjadi hal-hal yang mengganggu kehidupan beragama. Humanisme adalah sebuah cara pandang yang melihat manusia sebagai unsur penting yang memiliki keluhuran dan martabat. Humanism menurut pembaruan hidup dan terlebih sikap yang terus-menerus mau menjadi manusiawi dan menghargai sifat kemanusiaan. Intinya humanisme mengajarkan penghormatan terhadap martabat manusia.
Seperti yang dikatakan oleh Muhammad Munif diatas, bahwa berbagai persoalan bernuansakan agama, mulai dari intoleransi, radikalisme, bahkan ekstremisme disebabkan oleh sempitnya pemahaman keagamaan seseorang terhadap agamanya sendiri, selain ketidaktahuan seseorang itu terhadap agama atau penganut agama lainnya. Yang saya garis bawahi adalah “sempitnya pemahaman keagamaan seseorang terhadap agamanya sendiri”. Greg Barton mengatakan bahwa dalam membaca Islam kita harus mampu melihat arus-arus yang berada dalam tradisi Islam, baik yang progesif maupun yang radikal. Islam progesif merupakan salah satu pandangan keislaman yang moderat, karena mampu memahami nilai-nilai kemodernan, seperti demokratis, HAM, dan pluralism secara baik. Berfikir moderat, bertinda terbuka, toleran, menghormati dan menghargai keyakinan orang lain itulah yang harus kita miliki demi terciptanya kerukunan dan kedamaian umat beragama. Untuk bersikap seperti diatas, pendekatan dan persepektif yang digunakan adalah Pluralisme dan Perenialisme. Pluralisma akan mengantarkan kita agar bersikap postif terhadap menghadapi fakta kebinekaan dan perbedaan. Sedangkan perenialisme akan memberikan kita pemahaman dan keinsyafan akan adanya titik temu ajaran, esensi-esensi agama, kearifan dan spritualisme agama.
Nurcholish Madjid pernah menulis di Republika pada 10 Agustus 1999. Beliau mengatakan demikian :

Puralisme tidak dapat dipahami hanya dengan mengatakan bahwa masyarakat kita majemuk, beraneka ragam, terdiri dari berbagai suku dan agama, yang justru menggambarkan kesan fragmentasi, bukan pluralism. Pluralisme juga tdak boleh dipahami sebagai “kebaikan negative” (negative good), hanya ditilik dari kegunaannya menyingkirkan fanatisme (to keep fanatism at bay). Pluralisme harus dipahami sebagai “pertalian sejati kebinekaan dalam ikatan-ikatan keadaban”. Bahkan pluralisme adalah suatu keharusan bagi keselamatan umat manusia, antara lain melalui mekanisme pengawasan dan pengimbangan yang dihasilkannya. Dalam kita suci justru disebutkan bahwa Allah menciptakan mekanisme pengawasan dan pengimbangan dan pengimbangan antara sesama manusia guna memelihara keutuhan bumi, dan merupakan salah satu wujud kemurahan tuhan yang melimpah kepada manusia.
“seandainya Allah tidak mengimbangi segolongan manusia dengan segolongan yang lain, maka pastilah bumi hancur; namun Allah mempunyai kemurahan yang melimpah kepada seluruh alam.” (Alquran, Surah Al-Baqarah/2:251).

yang mau saya singgung adalah ayat Alquran yang dikutip oleh Cak Nur tersebut. Allah saja mengimbangi satu golongan dengan golongan yang lainnya. Artinya Allah menciptakan manusia tidak hanya terdiri atas satu golongan saja. Tidak hanya terdiri dari satu agama saja. Kenyataannya agama samawi yang turun ke Bumi ada 3, Yahudi, Nasrani dan terakhir Islam. Ayat diatas juga linier dengan Surah Al-hujarat ayat 13 yang artinya “Hai Manusia, sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan dan menjadikan kami berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal .......”. Allah menciptakan manusia yang terdiri atas berbagai macam golongan bukan untuk kita saling menindas, saling menjatuhkan dan saling menyakiti satu sama lain, melainkan untuk kita saling mengenal satu sama lain. Lebih lanjut Muhammed Arkoun Mengatakan “Bukan untuk memberikan sumbangan terselenggaranya suatu perjumpaan (encounter) yang akan membuat kita berfikir cara pandang “saya dan kita versus kamu dan mereka”, melainkan bagi terciptanya suatu ruang baru bagi kesalingpahaman dan kebebasan”. Perkataan ini bisa dijadikan untuk memberikan pemahaman bahwa keberagaman yang Allah ciptakan adalan untuk kita saling paham satu sama lain bukan untuk saling membuktikan eksistensi golongan sendiri.
Hilangnya kedamaian antar umat beragama yang ada di Indonesia sebenarnya sudah diperingtkan oleh Allah SWT. Allah berfirman yang artinya: Jangan berdebat dengan para pengikut wahyu terdahulu, kecuali secara lemah lembut --- jika tidak demikian mereka akan cenderung berbuat jahat--- dan katakanlah: “ kami beriman kepada apa yang telah diberikan kepada kami, serta apa yang telah diberikan kepadamu, karena tuhan kami dan tuhan kamu adalah satu dan sama, dan kepadanya kita menyerahkan diri”. (QS 29: 46). Seperti yang saya katakana diatas bahwa agama samawi ada 3, Yahudi, Nasrani dan yang terakhir Islam. Kristen sekarang itu merupakan representative dari Nasrani walaupun banyak yang mengatakan bahwa injil digunakan telah mengalami banyak perubahan. Jika kita tarik ke ayat diatas, kita dilarang untuk berdebat dengan mereka (para pengikut wahyu terdahulu) menggunakan cara yang kasar. Ketika itu terjadi, mereka akan membalas kita dengan perbuatan yang jahat. Allah sudah memperingatkan kita akan hal tersebut, tetapi kenapa kita masih melakukan itu? Toh dalam surat Al-Kafirun ayat 6 Allah juga berfirman, yang artinya : bagimu agamamu, bagiku agamaku. Itu kan sudah jelas bahwa bagi mereka yaa agama mereka. Bagi kita yaaa agama kita. Janganlah menggangu keharmonisan masyarakat dengan perang antar agama.
Kembali ke teori sosiologis tadi. Jika kita ingin tenang, nyaman, dihormati, dan dicintai, tentu kita juga harus memberikan kesan tersebut terhadap orang lain. Artinya jika kita ingin damai, maka berilah rasa damai kepada orang sekitar kita. Pepatah arab dalam Mahfuzhot juga mengatakan “Man Zholama, Zhulima” Barangsiapa yang menzolimi maka akan dizalimi. Hukum sebab akibat terjadi disini. Lantas,apakah kita masih memaksakan bahwa agama yang kita anut benar? Kita berdakwah atau hanya memaksakan eksistensi keberadaan agama kita? Ketika kita menjadi kaum minoritas apakah kita masih bisa berbuat sebebas ini? Coba kita fikirkan baik-baik akibat yang akan ditimbulkan oleh tindakan kita yang sekarang.


Wallahu a’lam Bish Showab

Selasa, 15 Desember 2015

Deskripsi Metode Berfikir Rene Descartes


 “Aku Berfikir Maka Aku ada”. Sebuah ungkapan yang ditelurkan oleh Rene Descartes. Seorang filsuf dan matematikawan asal Prancis yang kadang disebut sebagai bapak filsafat Modern dan Bapak Matematika Modern. Kalo dibedah secara kata kata perkata. Ada 2 kata yang membuat kita bertanya yaitu Cogito dan Sum. Cogito yang berarti kepala atau pikiran dan Sum yang berarti ada atau hidup. Lalu kenapa Descartes bisa menelurkan slogan itu? Karena menurutnya antara kepala  dan dunia dihubungkan oleh media Ilmu Pengetahuan (sebagai ergo) melalui aktifitas berfikir.
Saya mencoba menerjemahkan secara bebas, maka akan menjadi sebuah urutan menuju dunia. Pertama dimulai dengan berfikir, setelat kita berfikir akan menjadi ilmu pengetahuan dan setelah menjadi ilmu pengetahuan maka jadilah dunia. Sehingga, jika kita tidak berfikir maka tidak jadilah dunia ini. Contohnya, benda-benda diluar angkasa tidak akan pernah ada, jika Galileo Galilei tidak bisa memakai teropong untuk melihatnya. Teropong adalah buah dari pikiran Galileo.
Dari pengantar diatas kita dapat mengambil kesimpulan bahwa semua yang kita ketahui sekarang adalah buah dari pikiran. Jadi, tindakan awal kita adalah berfikir. Toh yang membedakan kita dengan makhluk tuhan lainnya adalah akal. Dan akal adalah alat yang kita gunakan untuk berfikir. Dan berfikir juga tidak sembarangan perlu sistematika untuk menelurkan ilmu pengetahuan dan akhirnya menjadi dunia (seperti slogan Rene Descartes).
Menurut saya, hanya ada satu disiplin ilmu yang menuntun untuk berfikir secara sistematis. Yaitu matematika. Kenapa? Karena matematika bukan hanya masalah hitung menghitung semata, tapi juga ada konsep disana. Alasan - alasan  kenapa bisa mencapai hasil tersebut. Ketika kita berfikir matematika itu berbicara hasil akhir, kita salah besar. 2+3=5 itu bukan matematika, tetapi aritmatika. Ketika kita bertanya kenapa 2+3=5? Itulah matematika. Matematika mengungkap alasan dibalik sebuah fenomena melaui angka, bilangan dan symbol. Sekarang, ilmu alam mana yang tidak disandarkan dengan matematika? Tekhnik dengan matematika sampai kepada ekonomi yang merupakan ilmu social pun tidak sempurna kalo tidak disandarkan dengan statistic dan statistic bagian dari matematika. Sekarang, saya mencoba membuat Matematika sebagai penuntun kita dalam berfikir. Hapus semua angka dan bilangan dalam matematika dan kita ambil esensi-esensi dalam matematika tersebut.
Dalam bukunya Tan Malaka yang berjudul Medilog, dikatakan bahwa ada “Three Defenition of Science” atau 3 Defenisi Sains.
1.      Accurate thought atau cara berfikir akurat
2.      Organization of Facts atau penyusunan Bukti. Dan,
3.      Simplification by Generalization atau penggampangan yang mengumumkan
Ketiga definisi itu, satu sama lainnya berhubungan, isi mengisi dan tambah menambah. Untuk berfikir secara matematis, definisi pertama lah yang dituju, lalu ke definisi yang kedua dan begitu seterusnya. Oh iya, kata definisi disini berarti ketetapan atau kepastian. Dalam matematika, Definisi ini sangat penting sekali karena semua theorema (teori) disandar kepada definisi. Definisi ini menuntun kepada accurate thought, akurasi dan berfikir.
Kita telaah dari definisi yang pertama yaitu berfikir secara akurat. Menurut Rene Descartes, definisi yang pertama ini artinya adalah jangan menerima apapun sebagai sesuatu yang benar kecuali, jika sudah mengetahuinya secara jelas bahwa itu memang benar. Dengan kata lain, hindari penyimpulan yang terlalu cepat dan prasangka. Dan tidak memasukkan apapun dalam pandangan kecuali apa yang tampil amat jelas dan gambalang dalam nalar, sehingga tidak ada kesempatan untuk meragukannya. Contoh ketika banyak orang mengatakan bahwa jasad Muhammad ikut dalam Isra’ dan Mi’raj. Kita jangan langsung menerima itu benar sebelum ada bukti yang jelas atau empiris (karena di Al-qur’an tidak dijelaskan apakah jasad Muhammad ikut dalam perjalanan Isra’ dan Mi’raj). Kita harus menelaah dulu apakah benar jasad Muhammad ikut atau mungkin juga tidak.
Definisi yang kedua adalah Organization of Fact. Menyusun fakta (bukti-bukti). Untuk definisi ini, Rene Descartes mengatakan bahwa pilih satu persatu kesulitan yang akan ditelaah menjadi bagian bagian kecil sebanyak mungkin atau sejumlah yang diperlukan, untuk memudahkan penyelesaian. Kembali kepada kasus Isra’ Mi’raj. Tahapan kedua untuk membuktikan jasad Muhammad ikut atau tidak adalah, mencari bukti-bukti yang mengatakan bahwa jasad Muhammad ikut dalam isra’ mi’raj. Apa saja yang bisa membuktikan secara empiris bahwa jasad Muhammad ikut dalam perjalanan tersebut.
Definisi yang ketiga adalah, simplification of generalization. Disinilah kita mulai menganalisis data (fakta) yang kita temukan dan mulai mengaitkan terhadap sesuatu yang umum sudah terjadi. Menurut metode berfikir Rene Descartes, pada tahap ini kita mulai berfikir secara runtut, mulai menganalisis objek-objek yang paling sederhana dan paling mudah dikenali, lalu meningkat setahap demi setahap sampai ke masalah yang paling rumit dan bahkan menata dalam urutan obyek-obyek yang secara alamiah tidak beraturan.  Dan ditahap ini juga kita melakukan perincian yang selengkap mungkin dan pemeriksaan secara menyeluruh sampai yakin bahwa tidak ada yang terlupakan.
Penalaran atau metode berfikir seperti ini yang banyak digunakan oleh semua ahli matematika. Mereka tidak akan menganggap benar sesuatu yang baru sampai mereka menemukan fakta-fakta serta menganalisis fakta tersebut. Sebenarnya, mudah saja untuk bisa berfikir secara matematis. Asalkan kita menolak untuk menerima apapun yang tidak benar sebagai benar, dan kita selalu mempertahankan urutan yang seharusnya untuk menyusun masalah satu persatu. Permasalahannya adalah ketika kita mulai menganalisis hasil temuan. Mulai dari mana kita berangkat. Untuk pribadi saya sendiri. Saya tidak pernah menemukan kesulitan untuk memulai dari mana analisis suatu masalah. Karena saya sudah tahu harus memulai dari yang paling sederhana dan yang paling mudah dikenali.
Contoh ketika saya menganalisis kasus jasad Muhammad tersebut. Saya mulai berangkat dari hal yang paling mudah dikenali. Apa? Yaa saya kenal dengan disiplin ilmu yang saya tekuni. Saya mulai mencari rumus yang pas untuk membuktikan apakah jasad Muhammad ikut dalam isra’ mi’raj atau tidak. Dan akhirnya saya sampai kepada suatu kesimpulan dari analisis tersebut (hasilnya ada di http://kkurus.blogspot.co.id/2015/12/apakah-jasad-muhammad-ikut-dalam-isra.html?m=1 ).
Rene Descartes mengatakan bahwa ketaatan pada beberapa prinsip yang telah dipilih itu memberikan kemudahan dalam menyelesaikan beberaoa persoalan. Sampai dengan persoalan itu baru pertama kita hadapi. Contoh yang hal terjadi kepada salah seorang senior saya. Dia seorang dosen disebuah perguruan tinggi di malang. Suatu saat dia dihadapkan kepada suatu masalah, yaitu vespa nya mogok di jalan dan tidak bisa nyala. Lalu Dia duduk untuk berfikir apa yang salah dengan vespanya. Dia menggunakan metode berfikir seperti diatas. Mulai dari tidak terlalu cepat untuk menyimpulkan sesuatu. Lalu dilanjutkan dengan mengumpulkan data. Mengecek komponen yang membuat mesin vespanya bekerja. Setelah itu dia mulai menganalisis segala kemungkinan dari fakta yang dia temukan tentang kerja sebuah mesin. Dan akhirnya vespanya pun kembali bisa dijalankan. Kasus ini menunjukkan bahwa ketaatan kita kepada sesuatu akan memudahkan kita menyelesaikan masalah tersebut. Dan semuanya dimulai dari berfikir. 

Jumat, 11 Desember 2015

Apakah Jasad Muhammad Ikut dalam Isra’ Mi’raj?



Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Al-Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat”
(QS 17:1)

Berbicara tentang kerasulan Muhammad SAW. tentunya tidak terlepas dari peristiwa Isra’ dan Mi’raj. Sebuah perjalanan yang menimbulkan pertanyaan besar. Apakah benar Muhammad melakukan perjalanan ke tempat yang jauh dalam waktu yang singkat? Apakah benar Muhammad melakukan perjalanan menembus ruang dan waktu hingga sidratul muntaha untuk bertemu dengan Allah SWT.?
Seluruh umat Islam di dunia ini mempercayai bahwa Muhammad melakukan perjalanan itu. Tetapi, sebagian umat agama lain tidak mempercayai itu. Karena pertanyaannya adalah kendaraan apa yang digunakan oleh Muhammad dalam melakukan perjalanan itu. Sedangkan ilmu pengetahuan pada saat itu belum menemukan kendaraan yang bisa mengantarkan Muhammad dari Masjidil Haram (mekkah) ke Masjidil Al-Aqsa (Palestina), yang berjarak 1.953 km dalam waktu yang singkat.
Sekarang, dengan perkembangan ilmu pengetahuan yang sangat pesat. Apalagi didukung dengan penemuan kecepatan cahaya (3.108 m/s) yang melebihi kecepatan suara (super sonic). Perjalanan Muhammad bisa diterima oleh khalayak banyak. Artinya, saat itu Muhammad diperjalankan oleh Allah SWT. dengan kecepatan cahaya atau mungkin bisa lebih. Mengapa saya berasumsi Muhammad diperjalankan dengan kecepatan cahaya? Karena, untuk menempuh perjalanan dengan jarak yang hampir 2000 km dalam waktu singkat, kecepatan apalagi yang digunakan kalau bukan kecepatan cahaya?
Untuk membaca tulisan ini mari kita samakan asumsi kalau Muhammad diperjalankan dengan kecepatan cahaya. Pertama kita bahas waktu yang ditempuh oleh Muhammad dari Mekkah ke Palestina. Rumus awalnya adalah Jarak = Kecepatan x Waktu. Berarti kalau kita mau menghitung waktu tempuh, rumusnya menjadi Waktu = Jarak/Kecepatan. So, dengan kecepatan cahaya 3.108 m/s (300.000.000 m/s) berarti jika dikonversi ke satuan KM menjadi 300.000 km/s. Lalu kita mulai menghitung waktu tempuhnya. Kita bulatkan saja jarak mekkah ke palestina menjadi 2000 km (agar mudah menghitungnya). Sekarang, kita masukkan ke rumusnya Waktu = 2000 Km/300.000 Km/s. Hasilnya, 1/150 s. Jadi, Muhammad hanya memerlukan 1/150 s untuk menempuh jarak 2000 Km.
Kemudian, yang menjadi masalah buat saya adalah efek yang ditimbulkan dari pergerakan tersebut. Contoh kecil saja, ketika kita menonton film “Fast and Furious 5” ada sebuah adegan ketika 4 tokoh melakukan pencurian mobil polisi dan melakukan Drag Race dengan jarak yang pendek dari satu lampu lalu lintas ke lampu lalu lintas lainnya. Hanya dengan kecepatan ratusan km/jam saja sudah mampu menggetarkan kaca ruko disekitar lintasan Race  tersebut. Kalau kita kaitkan dengan peristiwa yang dialami oleh Muhammad, beliau bergerak dengan kecepetan cahaya yang mencapai 300.000 km/s. Berarti efek yang ditimbulkan pun melebihi apa yang diilustrasikan di film Fast & Furious tersebut.
Selanjutnya, saya mencoba mengaitkan dengan rumus yang diciptakan oleh Albert Einsten yaitu, E=MC2. E= Energi, M= Massa, C= Konstanta Kecepatan Cahaya (3.108 m/s). Artinya, ketika ada benda yang bermassa bergerak dengan kecepatan cahaya ada energi yang akan dihasilkan. Kalau kita kaitkan dengan kejadian Isra’ dan Mi`raj, ada energi yang dihasilkan dan itu sangat besar. Coba kita hitung. Kita berandai andai kalo Muhammad memiliki massa 60Kg (diambil dari rata rata massa umat Muhammad). Lalu masukkan ke dalam rumus tersebut :

E= 60 x (3.108)2
E= 60 x 9.1016
E= 540.1016

Coba kita telaah hasil dari perhitungan diatas. Betapa besar energi yang dihasilkan oleh perjalanan Isra’ dan Mi’raj. Dengan energi yang begitu besar ini saya tidak bisa membayangkan apa yang terjadi didaerah sekitar lintasan perjalanan (Mekkah sampai Palestina). Kalau kita kaitkan dengan Bom Atom Hiroshima dan Nagasaki, tentu dengan energi yang dihasilkan oleh perjalanan ini efek yang ditimbulkan sangatlah waaaaaaaaaaaah. Tetapi, coba kita lihat keadaan daerah sekitar lintasan Isra’ Mi’raj, apakah ada yang berdampak melebihi Bom Hiroshima dan Nagasaki? Jangankan melebihi, untuk sama dengan efek Bom tersebut saja, saya tidak melihatnya.
Ketika tidak ada efek secara empiris, maka tidak ada energi yang dihasilkan dari perjalanan Isra’ dan Mi’raj tersebut. Lalu, apa yang membuat energi tersebut tidak ada? Jikalau kita kembali kepada rumus E=MC2. Jika energi yang dihasilkan tidak ada maka, E = 0. Kalau E = 0 maka, ada yang membuatnya menjadi 0. Lalu, apa yang membuatnya menjadi 0? Dua element yang menghasilkan energi menurut rumus tersebut adalah Massa dan Konstanta kecepatan cahaya. Jadi, satu satunya yang membuat energi tersebut menjadi 0 adalah massa. Karena element yang satunya lagi adalah konstanta. Ketika manusia tidak mempunyai massa, maka tidak ada jasad yang menyelimutinya. Karena, jasad mempunyai massa dan tidak nol. Maka siapa yang diperjalankan oleh Allah ketika Isra’ dan Mi’raj?
Ini yang menjadikan kajian saya tidak berhenti sampai di pertanyaan ini. Saya tetap menjadikan Al-Quran sebagai sumber ilmu pengetahuan. Tidak mungkin Al-Quran Menghianati Ilmu Pengetahuan. Maka dari itu saya tetap percaya bahwa Muhammad yang diperjalankan oleh Allah ketika Isra’ Mi’raj.
Beberapa saat saya duduk dan mencoba mencari tahu sesuatu seperti apa yang mempunyai massa 0. Disiplin ilmu yang saya geluti tidak membahas tentang massa. Kemudian saya bertanya kepada seseorang yang sedang duduk di samping pintu UKM. Dia seorang sarjana fisika. Dia bilang “gelombang mempunyai massa 0”. Lalu, apa yang ada didalam diri manusia yang berbentuk gelombang?. Saya mulai berfikir, manusia itu punya dua unsur yaitu jasad dan ruh. Jika dikaitakan dengan terjadinya Isra’ dan Mi’raj tadi, jasad sudah tidak mungkin ikut dalam perjalanan tersebut karena jasad mempunyai massa. Dan massa lah yang menghasilkan energi. Jadi, satu-satunya dalam diri Muhammad yang bisa ikut dalam perjalanan tersebut adalah ruh nya.
Pada saat Isra' Mi'raj, dikisahkan bahwa Rasulullah dan Jibril telah tiba di Sidratul Muntaha, namun malaikat Jibril berkata kepada Muhammad bahwa ia sudah tidak sanggup lagi mengantar Muhammad untuk menghadap ke Hadirat Allah SWT. Jibril berkata: "Aku sama sekali tidak mampu mendekati Allah, perlu 60.000 tahun lagi aku harus terbang. Itulah jarak antara aku dan Allah yang dapat aku capai. Jika aku terus juga ke atas, aku pasti hancur luluh".
Perhatikan kisah diatas! Ketika Jibril berkata “Jika aku terus ke atas, aku pasti hancur luluh”. Coba kita analisis kalimat “hancur luluh”. Kalo ditafsirkan secara bahasa, jasad Jibril akan hancur ketika sampai ke sidratul muntaha. Jibril diciptakan dari cahaya. Di bukunya Tan Malaka yang berjudul “Medilog” dikatakan bahwa dahulu kita hanya mengenal 4 element yang ada di Bumi yaitu Air, Api, Udara dan Tanah. Dan diantara 4 element ini Tanah merupakan element paling lemah. Jadi, cahaya aja bisa hancur ketika masuk ke sidratul muntaha, apalagi manusia yang hanya terbuat dari tanah.   
Ketika saya menanyakan ini kepada teman – teman di pondok dahulu, saya mmendapati jawaban yang mengatakan bahwa para ulama pun memiliki pendapat yang berbeda tentang masalah ini. Ada yang berpendapat bahwa Jasad Muhammad ikut dalam perjalan ini ada juga yang berpendapat hanya ruh  nya saja yang ikut. Berdasarkan perhitungan dan kajian diatas, saya berpendapat bahwa hanya ruh nya Muhammad saja yang ikut dalam perjalanan Isra’ Mi’raj tersebut.
Tetapi, saya tidak akan menyalahkan pendapat para ulama yang mengatakan bahwa Jasad Muhammad juga ikut dalam perjalanan tersebut. Karena para ulama memiliki kajian tersendiri dalam masalah ini. Dan para ulama pun tentunya lebih menguasai ilmu keagamaan daripada saya. Dan kembali pertanyaan diatas muncul “Apakah Jasad Muhammad Ikut Dalam Perjalanan Isra’ Mi’raj?”


Wallahau a’lam Bish Shawab

Jumat, 06 Februari 2015

Enaknya Jadi Anak Pondok (Pesantren)

Baru-baru ini gue ngepos tentang sebuah perasaan gue kepada seseorang. seseorang yang gue kenal ketika gue masih menuntut ilmu disebuah pondok pesantren dibilangan Bekasi, Jawa Barat. ada yang protes dengan Bekasi? ga ada kan ya? aman berarti. gara-gara tulisan itu, gue kembali mengarungi dalamnya lautan ingatan gue. mengingat masa yang menyenangkan ketika disana. mengingat dimana gue belajar dan membentuk diri gue yang sekarang. dan buat yang kenal gue di malang, dengan gue yang begini jangan salahkan didikan pondok gue tapi emang karena cetakan dari sananya gue udah begini hahaha :p

pondok pesantren dengan segala lika-liku kehidupan yang ada didalamnya. semua jenis karakter manusia ada disana. mulai dari yang royal, pelit, pinter, bodoh, serius, kocak, konyol, pokoknya semua ada disana dah. sekarang gue begini, temen gue ada yang lebih dari gue sekarang hahah :p. satu hal yang menarik ketika di pondok yaitu 80% orangnya humoris. tidak ada menit yang terlewatkan tanpa ketawa. kecuali, pas pelajaran guru-guru killer dan guru-guru senior baru pada serius yaaa walaupun kadang banyak juga ketawanya. dalam hal pelajaran cuman 1 pelajaran yang bikin setress. bukan fisika, kimia, biologi atau matematika (gue jurusan IPA). tapi yang bikin setress itu pelajaran TAHFIZUL QUR'AN . kalo yang gatau ini pelajaran dimana kita diwajibkan menghapal Al-Qur'an. nih yaa lu bayangin aja, ngapalin rumus yang sealaihum gambreng aja otak gue sampe tumpeh tumpeh apalagi ngapalin Al-Qur'an, botak mungkin gue. makanya gue kabur mulu pas pelajaran ini hahaha :p. udah ah disini kan niatnya mau ngasih tau enaknya jadi anak pondok.

oke deh, kita mulai dari yang pertama. "Anak pondok akan terlihat awet muda" kenapa gue bilang begitu? karena gue ngalamin sendiri kejadian ini. dengan umur gue yang udah semster tua, sebut saja semester 8. ga jarang gue dibilang masih MaBa (Mahasiswa Basi Baru) dan baru-baru ini gue malah disangkain masih kelas 2 SMA. keren kan? gimana ga keren, kuliah yang udah diujung tanduk tapi masih kelihatan kayak anak kelas 2 SMA. ini terjadi karena ketika gue masih di pondok, gue dikelilingi oleh orang yang humoris. kalo kata Gus Dur, gudangnya humor itu ada di pondok pesantren. ini tidak terbantahkan karena gue ngalamin langsung. orang banyak bilang kalo sering ketawa itu awet muda. dan gue udah ngebuktiin itu. gue banyak ketawa dan banyak senyum. tapi efek negatifnya lu akan disangkain gila sama orang-orang

kedua, sebenarnya ini masih efek dari humoris tadi. "lu akan mudah beradaptasi atau mudah diterima dengan lingkungan baru lu". membuat orang ketawa dan melakukan hal yang konyol itu beda tipis. kalo lu nonton anime naruto lu akan ketemu kata-kata kayak gini "kadang orang konyol lebih disukai dari yang lainnya" sekali lagi ini gue buktikan. dengan gue bertingkah konyol, gue lebih cepat diterima dilingkungan baru gue. mungkin bukan konyol yaa tapi homuris sedikit konyol dan berbau mesum hahaha. tapi, tergantung lingkungan juga sih. mungkin karena gue berada di lingkungan jurusan matematika yang diisi dengan manusia serius, gue hadir dengan sepercik cahaya membawa ketawa di matematika 2011 kampus gue. *Pede mampus gue*. padahal mah gue dikucilin diangkatan gue. buktinya, temen-temen gue udah berkutat dengan skripsi tapi gue masih aja berebut kelas dengan ade angkatan. *oke ini diluar konteks*. hal lain yang mendukung lu mudah diterima adalah, lu gampang mengindentifikasi sifat orang-orang yang ada disekeliling lu. kenapa gue bilang begini. diawal sudah gue bilang di pondok itu semua sifat manusia ada didalamnya. dan lu hidup dengan mereka selama 6 tahun. dari bangun tidur sampe tidur lagi ketemunya itu itu aja. pastinya lu paham dong dengan sifat dan cara menghadapi mereka. maka dari itu, anak pondok akan lebih cepat beradaptasi dengan lingkungan. 

ketiga, "Lu akan lebih santai dalam menghadapi sebuah masalah" lu pernah denger kata-kata begini kan "Don't judge the book by a cover". Tapi, orang indonesia ga bisa begitu. orang indonesia itu pasti "Judge the book by a cover". melihat segala sesuatu hanya dari penampilannya saja. orang indonesia akan terlihat sedang ada masalah hanya dengan melihat ekspresi mukanya. jadi, orang sedikit agak segan mendekati orang terlihat punya banyak masalah. dengan ekspresi begitu lu akan terlihat sangat menyedihkan. hidup itu cuman sekali, maka manfaatkanlah dengan sebaik-baiknya. tapi, untuk masalah ini tidak akan berlaku bagi anak pondok. di pondok dulu, ada mata pelajaran yang namanya mahfuzot yang berisi pepatah-pepatah arab yang memotivasi seseorang. salah satu dari kata mutiara yang gue inget dan gue jadiin pegangan hidup adalah "Jangan katakan wahai tuhan aku mempunyai masalah yang besar, tapi katakanlah wahai masalah aku punya tuhan yang besar". kira-kira begitu redaksinya. pokoknya jangan takut dengan masalah karena kita punya tuhan yang selalu menolong kita. dan juga tuhan tidak akan memberikan ujian lebih dari kemampuan umatnya. tapi dosen ga begitu, selalu memberikan ujian diluar kemampuan gue. bukan salah dosen juga sih, guenya aja yang ga bisa ngerjain soalnya :p *oke ini diluar konteks*. jadi, sebagian anak pondok akan terlihat biasa-biasa aja ketiga mereka menghadapi masalah. karena mereka berpegang teguh kepada 2 kalimat diatas. mahfuzot diatas sinkron dengan perkataan Charlie Van Houten Chaplin. beliau mengatakan " Kita memang punya banyak masalah dalam hidup. tapi, bibir kita tidak tahu kalo kita punya masalah. Jadi, tetaplah tersenyum karena senyum merupakan shodaqoh" eh, tapi chaplin ga bilang kalo senyum merupakan shodaqoh :p

ini yang terakhir dan paling penting dari enaknya jadi anak pondok yaitu "anak pondok ga bakalan bisa jadi pemain BO**KEP". bukan kita taku dosa, azab dan lain sebagainya tapi karena memang kita ga bisa. belum dicasting aja udah ditolak. baru buka celana aja udah pasti ditolak. ini karena sebuah kutukan buat anak pondok. gue ceritain dari awal. tapi ini khusus laki-laki, gue gatau dah kalo cewe ngalamin apa ga. tapi kayaknya ga dah. kalo anak-anak pondok yang cowo udah familiar dengan istilah "Stempel Pondok". menurut senior gue, belum sah kita jadi anak pondok kalo kita belum dapet stempel pondok. stempel ini didapatkan setelah kita kena penyakit yang namanya "GALER" atau dikalangan santri pondok gue dikenal dengan nama GAruk pe**LER. penyakit ini menyerang daerah selangkangan dan sekitarnya. gue juga gatau kenapa yang diserang hanya daerah sekitar itu aja. kenapa ga daerah badan, tangan, atau kepala, atau bagian lainnya dah selain daerah selangkangan. dan setelah sembuh, terbitlah stempel pondok yaitu bagian selangkangan kita akan berubah menjadi hitam. bagi yang pernah nonton bokep, lu pasti lu semua ngeliat gimana bersihnya daerah selangkangan pemeran cowonya. bersih dan putiiiiiiiiiiiih men ga item. lah, kita anak pondok selangkangannya item semua. sampai sekarang gue berfikir tuhan menjaga anak anak pondok dari kenikmatan dunia yang sesaat ini dengan penyakit galer. 

cuman itu yang bisa gue bagi ditulisan kali ini. "berbahagialah kalian yang menjadi anak pondok. jangan takut dikatain kuper, gaptek, dll. karena kalian mendapatkan lebih dari yang ga tinggal dipondok !!!"